Enam Tahun Terbaring, Muslih Bertahan di Atas Ranjang Menunggu Uluran Tangan

oleh
oleh
M. Muslih Joko Waluyo lumpuh total butuh uluran tangan.
Sang istri, satu-satunya yang setia merawat Muslih. Ia harus bekerja serabutan demi menyambung hidup, meski kondisi kesehatannya sendiri terus menurun.

Lampung Selatan, Kabarlampung.co— Di sebuah kamar sempit di Dusun Bangun Rejo, Desa Neglasari, Kecamatan Katibung, waktu seolah berhenti bagi M. Muslih Joko Waluyo. Selama enam tahun terakhir, lansia ini hanya bisa terbaring di atas ranjang, menatap langit-langit rumahnya yang sunyi, sementara tubuhnya tak lagi mampu merespons keinginan untuk bergerak.

Kelumpuhan total yang dideritanya membuat Muslih sepenuhnya bergantung pada orang lain. Setiap tarikan napas kerap terasa berat. Ketika sesak datang, tak ada alat medis canggih yang membantunya – hanya kompres air panas yang ditempelkan di dada, menjadi satu-satunya pertolongan sederhana yang bisa dilakukan di rumah.

Derita Muslih bermula dari penyakit darah tinggi yang tak tertangani secara optimal. Seiring waktu, kondisi itu kian memburuk hingga melumpuhkan sekujur tubuhnya. Keluarga sebenarnya telah berusaha mencari pengobatan. Muslih sempat dibawa ke puskesmas dan dirujuk ke RSUD di Bandar Lampung. Namun, langkah pengobatan itu tak mampu berlanjut.

Keterbatasan ekonomi menjadi tembok tinggi yang sulit ditembus. Sang istri, satu-satunya yang setia merawat Muslih. Namun ia harus bekerja serabutan demi menyambung hidup, meski kondisi kesehatannya sendiri terus menurun. Beban keluarga semakin berat karena salah satu anak mereka juga mengalami gangguan kejiwaan, membuat rumah kecil itu dipenuhi persoalan yang tak pernah benar-benar usai.

Harapan sempat tumbuh ketika Muslih menjalani operasi medis di Bandarlampung. Namun harapan itu kembali runtuh. Proses pengobatan terpaksa dihentikan. Biaya transportasi, kebutuhan logistik, serta sulitnya membagi waktu untuk menjaga anggota keluarga lain di rumah membuat perjuangan itu tak sanggup diteruskan.

Kini, Muslih hanya bisa menunggu. Menunggu hari berganti di atas ranjang yang sama. Menunggu napas yang kadang terasa kian berat. Dan menunggu perhatian – uluran tangan dari pemerintah maupun para dermawan, agar ia dan keluarganya bisa mendapatkan layanan kesehatan yang layak, serta secercah harapan untuk hidup yang lebih manusiawi.

Di balik sunyi Dusun Bangun Rejo, kisah Muslih menjadi potret nyata bahwa sakit bukan hanya tentang tubuh yang lemah, tetapi juga tentang kemiskinan, keterbatasan, dan harapan yang perlahan memudar.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.