Gemulai Bedayo Abung Siwo Migo, Tarian Lampung Mempesona di Tanah Jawara Banten

oleh
oleh
Tarian Lampung.
Tarian Bedayo Abung Siwo Migo, yang dibawakan sembilan penari perempuan dari Sanggar Cangget Bedayo, sukses memukau ribuan penonton dalam Pentas Budaya, Hiburan, dan Pameran UMKM di Alun-Alun Pancaniti, Kota Serang, Banten, Sabtu malam (7/2/2026), rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN).

Serang, Kabarlampung.co Pesona budaya Lampung kembali mencuri perhatian publik nasional. Tarian Bedayo Abung Siwo Migo, yang dibawakan sembilan penari perempuan dari Sanggar Cangget Bedayo, sukses memukau ribuan penonton dalam Pentas Budaya, Hiburan, dan Pameran UMKM di Alun-Alun Pancaniti, Kota Serang, Banten, Sabtu malam (7/2/2026), rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN).

Gerak lembut nan anggun para penari seolah menghipnotis penonton. Setiap langkah dan ayunan tangan menghadirkan keindahan sekaligus keteguhan nilai adat Lampung Pepadun, khususnya dari kelompok adat Abung Siwo Migo.

Kepala Dinas Pariwisata Lampung Utara, Perdana Putra, menjelaskan bahwa Tari Bedayo Abung Siwo Migo lahir dari tradisi adat masyarakat Abung yang sarat makna filosofis, terutama dalam menjunjung tinggi nilai kesopanan, kehormatan, dan peran perempuan dalam struktur adat Lampung.

“Sejak awal kemunculannya, Tari Bedayo ditampilkan dalam berbagai upacara adat penting, seperti begawi adat, penyambutan tamu kehormatan, hingga ritual adat yang bersifat sakral,” jelas Perdana di lokasi kegiatan.

Ia menegaskan, tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan simbol penghormatan, ungkapan rasa syukur, sekaligus kemuliaan adat yang diwariskan lintas generasi.

“Kita patut berbangga, karena Tari Bedayo Abung Siwo Migo telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan pada tahun 2024,” tambahnya.

Secara etimologis, kata Bedayo bermakna kelembutan dan keindahan. Filosofi tersebut tergambar jelas dalam setiap ragam gerak yang halus, tertata, dan penuh pengendalian diri. Gerakan tari ini melambangkan karakter perempuan Lampung yang santun, anggun, namun tetap berwibawa. Tak heran, penarinya dipilih dari perempuan yang memahami adat, etika, serta nilai filosofis budaya Lampung.

Penampilan tarian khas Lampung ini pun menuai apresiasi dari Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eli Susianty.

“Saya benar-benar terpukau. Adat dan budaya seperti ini harus terus dijaga dan dilestarikan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PWI Provinsi Lampung, Wira Hadikusumah, menyampaikan kebanggaannya atas tampilnya Lampung dalam ajang berskala nasional tersebut.

“Ini bukti bahwa adat istiadat adalah identitas daerah. Kita bangga Lampung tampil di momen nasional, apalagi pada puncak HPN, Lampung juga mendapat penghargaan atas kekayaan adat dan budayanya,” ungkap Wira.

Penampilan Tari Bedayo Abung Siwo Migo di Tanah Jawara bukan hanya menjadi suguhan seni, tetapi juga pesan kuat bahwa budaya Lampung terus hidup, berdenyut, dan diakui di panggung nasional.(Adi/Ridho)