Sekda Geram, Taman Olah Seni Kotabumi Dibiarkan Jadi Belukar

oleh
oleh
Ilustrasi Sekda Lampung Utara Intji Indriati menyoroti Taman Olah Seni Kotabumi yang tidak terawat.

Lampung Utara, Kabarlampung.coWajah Taman Olah Seni (TOS) Kotabumi kini berubah drastis: dari pusat kreativitas menjadi kawasan terbengkalai yang dipenuhi semak belukar. Kondisi ini memicu kritik keras terhadap kinerja Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Lampung Utara yang dinilai gagal menjalankan tanggung jawabnya.

Sekretaris Daerah Lampung Utara, Intji Indriati, angkat bicara. Ia mendesak Disbudpar tidak lagi bersikap pasif dan segera mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan TOS dari kerusakan yang semakin parah. Dorongan itu bukan tanpa alasan, kondisi di lapangan menunjukkan pembiaran yang sudah berlangsung lama.

“TOS harus kembali menjadi pusat kreativitas generasi muda, bukan dibiarkan mati perlahan tanpa arah,” tegasnya, saat di komfirmasi melalui sambungan telpon,  Senin (13/4/2026).

Pantauan di lokasi memperlihatkan potret suram. Area panggung utama tertutup rapat oleh semak liar, sementara bagian belakang dipenuhi reruntuhan atap dan sampah yang tak terurus. Alih-alih menjadi ruang ekspresi seni, kawasan ini justru menyerupai “hutan” di tengah kota.

Ironisnya, di samping kawasan yang terbengkalai itu berdiri Gedung Perpustakaan Daerah yang tampak modern dan terawat. Kontras ini mempertegas kesan adanya ketimpangan perhatian dan pengelolaan fasilitas publik oleh pemerintah daerah.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius terhadap kinerja Disbudpar sebagai pengelola. Publik menilai instansi ini terkesan tutup mata, padahal kerusakan TOS bukan terjadi dalam waktu singkat.

Sorotan semakin tajam setelah terungkap bahwa Disbudpar mengelola anggaran hingga Rp6,4 miliar. Besarnya dana itu kini dipertanyakan publik, mengingat minimnya perawatan terhadap fasilitas seni yang seharusnya menjadi prioritas.

Tak hanya area utama, fasilitas pendukung pun tak luput dari kerusakan. Kamar mandi dipenuhi coretan tak beraturan, jauh dari nilai estetika yang semestinya dijaga di kawasan seni.

Seorang warga sekitar mengungkapkan perubahan drastis yang terjadi. Dahulu, TOS menjadi ruang hidup bagi seniman dan komunitas kreatif. Kini, suasana mencekam justru lebih dominan.

“Dulu ramai, anak teater latihan, musisi tampil. Sekarang orang mau masuk saja takut, khawatir ada ular di semak,” ujarnya.

Kondisi ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Lampung Utara. Tanpa langkah cepat dan konkret, TOS bukan hanya kehilangan fungsinya, tetapi juga berpotensi menjadi simbol kegagalan pengelolaan ruang publik di daerah.(Adi/Rilis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.