
Lampung Utara, Kabarlampung.co — Tangis pecah di rumah duka Desa Kalibening Raya, Kecamatan Abung Selatan. Suasana haru dan duka mendalam menyelimuti kediaman orang tua Praka Marinir Ari Kurniawan, prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 9 Marinir “Beruang Hitam”, yang gugur saat menjalankan tugas negara. Almarhum rencananya akan dimakamkan di pemakaman keluarga dengan upacara militer, Rabu (28/1/2026) pagi.
Praka Marinir Ari Kurniawan menghembuskan napas terakhir setelah tertimbun tanah longsor saat mengikuti latihan militer di kawasan Cisarua, Jawa Barat. Kepergian prajurit muda itu tak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan satuan, tetapi juga menyayat hati warga kampung halamannya di Lampung Utara.
Jenazah almarhum dijadwalkan tiba di rumah duka sekitar pukul 10.00 WIB, sebelum kemudian dimakamkan dengan prosesi kehormatan militer sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian dan pengorbanannya kepada bangsa dan negara.
Almarhum merupakan prajurit aktif Yonif 9 Marinir Beruang Hitam Lampung yang gugur saat mengikuti latihan pengamanan perbatasan Indonesia–Papua Nugini. Ia menjadi satu dari 23 prajurit Marinir yang tertimbun material longsor dalam peristiwa tragis tersebut.
Pantauan di lokasi, halaman rumah duka dipenuhi karangan bunga ucapan belasungkawa. Warga berdatangan silih berganti, menundukkan kepala, mengenang sosok Ari yang dikenal ramah, bersahaja, mudah bergaul, dan penuh canda. Tak sedikit warga yang tak kuasa menahan air mata, seakan tak percaya prajurit kebanggaan desa itu kini telah pergi untuk selamanya.
Ayah almarhum, Wawi, menuturkan momen komunikasi terakhir dengan sang anak yang kini terasa begitu membekas. Kamis malam sebelum musibah terjadi, Ari sempat mengirim pesan menanyakan kabar ayah dan ibunya di Lampung. Keluarga bahkan berencana melakukan panggilan video, namun almarhum menjawab bahwa dirinya sedang berada di hutan, kondisi gelap, dan tidak memungkinkan.
“Tidak ada firasat apa pun,” ujar Marno, kakak sepupu almarhum. Menurutnya, Ari dikenal sebagai sosok yang sangat menyayangi keluarga dan berperilaku baik di lingkungan sekitar. “Orangnya perhatian, tidak pernah menyusahkan orang lain,” katanya lirih.
Pria kelahiran 1999 itu meninggalkan seorang istri, Intan, yang kini tengah mengandung anak pertama mereka dengan usia kandungan sekitar tujuh bulan. Praka Marinir Ari Kurniawan merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Wawi dan Sumarpin, warga Jalan Way Tabuan, Desa Kalibening Raya, Abung Selatan. Sang adik pun disebut tengah mengikuti jejak almarhum, menempuh pendidikan Angkatan Laut untuk kelak mengabdi kepada negara.
Prosesi pemakaman yang semula direncanakan pada Selasa (27/1/2026) terpaksa ditunda akibat kendala cuaca yang menghambat penerbangan jenazah menuju Lampung. Jenazah almarhum baru dapat dijadwalkan tiba di rumah duka pada Rabu pagi.
Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyampaikan bahwa dari 23 prajurit Marinir yang tertimbun longsor, empat orang dinyatakan gugur. Dua di antaranya telah lebih dahulu dimakamkan di kampung halaman masing-masing, yakni Praka Muhammad Kori di Lampung Timur dan Serda Sidiq Hariyanto di Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara.
Tragedi ini menjadi duka mendalam bagi keluarga besar TNI Angkatan Laut, sekaligus pengingat akan besarnya risiko dan pengorbanan yang harus dihadapi para prajurit demi menjaga kedaulatan dan kehormatan bangsa. (*)








