
Lampung Timur, Kabarlampung.co – Kesabaran warga Kecamatan Purbolinggo akhirnya pecah. Bertahun-tahun jalan rusak tak kunjung diperbaiki, warga nekat menanam pohon pisang di tengah badan jalan sebagai simbol perlawanan terhadap lambannya respons pemerintah daerah, Minggu (15/2/2026).
Aksi ini bukan sekadar sindiran, melainkan bentuk protes keras atas kondisi jalan yang kini berubah menjadi kubangan berlumpur dan penuh lubang menganga.
Setiap hujan turun, genangan air menutup lubang-lubang dalam yang mengintai pengendara. Malam hari, minim penerangan membuat jalur tersebut bak jebakan maut.
Koordinator aksi, Suprayitno, menegaskan jalan itu merupakan akses vital penghubung antarwilayah. Kerusakan yang dibiarkan terlalu lama telah melumpuhkan aktivitas warga.
Akses pelajar terganggu, kendaraan petani pengangkut hasil panen kerap terperosok, dan roda ekonomi masyarakat tersendat. Tak sedikit pengendara motor yang jatuh akibat lubang tersembunyi di balik genangan air.
Tak hanya menanam pohon pisang, warga juga memasang belasan spanduk bernada keras serta tanda bahaya darurat di sepanjang jalan rusak. Benda-benda tersebut dipasang untuk memperingatkan pengendara agar tidak menjadi korban berikutnya.
Warga mengaku berbagai jalur formal telah ditempuh. Usulan melalui Musrenbang, pengaduan ke anggota DPRD, hingga penyampaian aspirasi langsung ke pemerintah daerah sudah dilakukan. Namun hasilnya nihil.
Kekecewaan berubah menjadi kemarahan terbuka. Warga menyatakan jika tuntutan perbaikan permanen tetap diabaikan, aksi lanjutan dengan massa lebih besar akan digelar.
Aksi tanam pisang ini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Lampung Timur. Di tengah janji percepatan pembangunan infrastruktur, masyarakat Purbolinggo justru masih berjibaku dengan jalan rusak yang membahayakan nyawa dan menghambat ekonomi.
Kini, publik menunggu: apakah pemerintah segera bergerak, atau membiarkan kemarahan warga terus membesar? (Pj)







