
Metro, Kabarlampung.co – Layanan kesehatan kembali menjadi sorotan setelah video ambulans milik RSUD Ahmad Yani Metro mogok di tengah jalan viral di media sosial. Peristiwa itu terjadi di ruas Jalan Lintas Timur, wilayah Labuhan Ratu, Lampung Timur, Senin 25 Februari 2025, saat kendaraan tersebut tengah mengantar jenazah ke rumah duka di Desa Wana, Kecamatan Melinting.
Ambulans yang disebut dikenakan biaya pengantaran sebesar Rp1.300.000 mendadak berhenti di perjalanan akibat gangguan mesin. Jenazah yang seharusnya segera tiba di rumah duka terpaksa tertahan berjam-jam di tepi jalan, memicu kekecewaan keluarga dan perhatian warganet.
Pihak manajemen rumah sakit membenarkan insiden tersebut. Gangguan disebut berasal dari kebocoran air radiator yang menyebabkan mesin tidak dapat beroperasi normal. Meski diklaim telah menjalani servis berkala, kerusakan tetap terjadi di luar perkiraan teknis. Pengantaran jenazah kemudian dilanjutkan menggunakan unit ambulans lain.
Penjelasan itu belum sepenuhnya meredam kritik. Publik mempertanyakan standar kelayakan operasional armada layanan kesehatan, terlebih insiden serupa disebut bukan kali pertama terjadi. Dalam situasi duka, keterlambatan akibat persoalan teknis dinilai sebagai bentuk kelalaian yang tak seharusnya terjadi pada layanan vital.
Soal tarif Rp1,3 juta, manajemen menyatakan biaya tersebut telah mengacu pada Peraturan Wali Kota Nomor 15 Tahun 2021. Namun di tengah kejadian mogok dan keterlambatan berjam-jam, masyarakat menilai wajar jika transparansi dan evaluasi layanan kembali dituntut.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa ambulans bukan sekadar kendaraan operasional, melainkan simbol kepercayaan publik terhadap sistem layanan kesehatan. Ketika mesin mogok di tengah jalan, yang dipertaruhkan bukan hanya kendaraan, tetapi juga profesionalisme dan empati institusi pelayanan publik.(SS)









