
Metro, Kabarlampung.co – Kekecewaan terhadap kinerja pemerintah Kota Metro memuncak. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Kota Metro menggelar aksi demonstrasi di halaman Gedung DPRD Kota Metro, Selasa 10 Maret 2026, dengan membakar ban sebagai bentuk protes keras terhadap satu tahun kepemimpinan Walikota Metro Bambang Iman Santoso dan Wakil Walikota Rafiq Adi Pradana.
Dalam aksinya, para mahasiswa menilai kepemimpinan keduanya gagal menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat. Sejumlah program yang dijanjikan saat kampanye dinilai tidak berjalan maksimal, bahkan dianggap mandek tanpa arah yang jelas.
Sebagai bentuk kritik simbolik yang keras, massa aksi berencana memberikan hadiah berupa lipstik dan baju daster kepada Walikota dan Wakil Walikota Metro. Simbol tersebut dimaksudkan sebagai sindiran tajam atas apa yang mereka sebut sebagai ketidakmampuan dan lemahnya kepemimpinan dalam mengelola pemerintahan Kota Metro.
Berdasarkan pantauan di lapangan, aksi yang mendapat pengawalan dari Polres Metro dan Satpol PP sempat memanas. Mahasiswa terlibat adu argumen dengan sejumlah anggota DPRD Kota Metro karena menuntut agar Walikota dan Wakil Walikota dihadirkan langsung untuk berdialog.
Namun tuntutan tersebut tidak dipenuhi. Anggota DPRD menyatakan tidak dapat menghadirkan Walikota dan Wakil Walikota secara langsung karena harus melalui mekanisme dan prosedur resmi pemerintahan.
Merasa tuntutannya diabaikan, massa aksi kemudian merangsek masuk ke ruang sidang paripurna dan menduduki Gedung DPRD Kota Metro sambil menunggu kehadiran Walikota dan Wakil Walikota.
Namun hingga aksi berakhir, Walikota dan Wakil Walikota Metro tidak pernah muncul menemui massa demonstran. Mahasiswa hanya diterima oleh empat anggota DPRD Metro, yakni Abdulhak, Efril Hadi, Ansori, dan Roma Doni.
Sementara dari pihak eksekutif, perwakilan yang hadir hanyalah Asisten I Helmi Zain, Kepala Dinas Pendidikan Agus Muhammad Septian, serta Direktur RSU A. Yani Eko Hendro.
Ketiadaan Walikota dan Wakil Walikota di tengah aksi tersebut semakin memperkuat kekecewaan mahasiswa yang menilai pemerintah Kota Metro tidak menunjukkan sikap terbuka terhadap kritik publik. (Sony)







