
Lampung Selatan, Kabarlampung.co – Arus balik Lebaran 2026 meninggalkan persoalan baru di jalur penyeberangan. Ribuan truk angkutan barang secara bersamaan menyerbu Pelabuhan Bakauheni, Senin (30/3/2026), memicu kemacetan parah yang melumpuhkan akses utama menuju pelabuhan.
Ledakan volume kendaraan terjadi tepat setelah pembatasan angkutan barang dicabut pada pukul 00.00 WIB. Truk-truk yang sebelumnya tertahan hingga tiga hari langsung bergerak serentak, menciptakan antrean panjang tanpa kendali.
Dampaknya, kemacetan mengular hingga 7 kilometer di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Sementara di Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), antrean kendaraan berat juga membentang lebih dari 3 kilometer, memperparah kepadatan di kawasan Bakauheni.
Para sopir logistik mengaku terjebak antrean ekstrem hingga 24 jam hanya untuk bisa masuk ke area pelabuhan dan naik kapal. Kondisi ini disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Kekecewaan pun memuncak. Sopir menilai kebijakan pembatasan angkutan selama Lebaran justru memicu kerugian besar di sektor distribusi.
“Tidak fleksibel sama sekali. Ternak banyak yang mati, buah dan sayuran busuk di jalan,” kata Iwan, sopir truk di lokasi.
Keluhan serupa disampaikan Yayan. Ia menyebut keterlambatan distribusi menyebabkan kerugian pengusaha hasil bumi dan peternak mencapai ratusan miliar rupiah.
Situasi ini menegaskan lemahnya manajemen arus logistik pasca pembatasan, yang berujung pada penumpukan kendaraan dan kerugian besar di lapangan. (Puji/Gelly)








