
Jakarta, Kabarlampung.co – BPJS Kesehatan melaporkan kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terus meningkat. Hingga 31 Desember 2025, jumlah peserta JKN telah mencapai 282,7 juta jiwa atau 98,62 persen dari total penduduk Indonesia.
Seiring meningkatnya kepesertaan, pemanfaatan layanan kesehatan juga terus bertambah. Sepanjang 2025, peserta JKN tercatat memanfaatkan layanan kesehatan sebanyak 725,3 juta kali atau rata-rata lebih dari 1,9 juta layanan setiap hari.
Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito mengatakan capaian tersebut menunjukkan Program JKN semakin menjadi tumpuan masyarakat untuk memperoleh layanan kesehatan.
“Program JKN bukan sekadar memberikan jaminan pembiayaan pelayanan kesehatan. Program ini menjadi fondasi dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang sehat, produktif, dan berdaya saing,” kata Prihati dalam Public Expose Laporan Pengelolaan Program dan Laporan Keuangan BPJS Kesehatan Tahun 2025, Kamis (2/7/2026).
Menurut Prihati, tingginya pemanfaatan layanan juga diikuti dengan penguatan transformasi digital. BPJS Kesehatan kini menghadirkan berbagai kanal layanan, mulai dari Mobile JKN, layanan administrasi melalui WhatsApp PANDAWA di nomor 0811-8165-165, hingga Care Center 165.
Selain itu, BPJS Kesehatan telah bermitra dengan 23.770 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), 3.194 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL), dan 6.190 fasilitas kesehatan penunjang yang tersebar di seluruh Indonesia.
Dari sisi keuangan, Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan tetap mencatatkan kinerja positif. Hingga akhir 2025, aset bersih DJS Kesehatan mencapai Rp 30,04 triliun dengan hasil investasi sebesar Rp 3,94 triliun.
Prihati mengatakan kondisi tersebut menunjukkan Program JKN tetap dikelola secara sehat dan berkelanjutan. BPJS Kesehatan juga kembali meraih opini Wajar Tanpa Modifikasi (WTP) atas laporan keuangan tahun buku 2025, sekaligus menjadi yang ke-12 kali berturut-turut.
Mengutip hasil kajian LPEM FEB Universitas Indonesia, Prihati menyebut Program JKN juga memberikan dampak terhadap perekonomian nasional. Program ini diperkirakan berkontribusi terhadap peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Rp 129 triliun serta menciptakan sekitar 3,5 juta lapangan kerja.
Tak hanya itu, Program JKN disebut berhasil menyelamatkan sekitar 8,1 juta penduduk dari kemiskinan dan melindungi sekitar 16 juta penduduk dari risiko jatuh miskin akibat biaya berobat.
Di sisi lain, biaya pelayanan kesehatan yang ditanggung Program JKN juga terus meningkat. Sepanjang 2025, biaya pelayanan mencapai Rp 191,3 triliun. Sebanyak 26,42 persen di antaranya digunakan untuk pembiayaan penyakit katastropik.
“Kami akan terus memperkuat upaya promotif dan preventif agar masyarakat semakin sehat sekaligus menjaga keberlanjutan Program JKN,” ujar Prihati.
Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan Stevanus Adrianto Passat mengatakan tantangan ke depan adalah menjaga keberlanjutan pembiayaan, meningkatkan kualitas layanan, memperluas kepesertaan aktif, serta memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan. (*)









