Abu Krakatau Picu Udara Lampung Masuk Kategori Tidak Sehat

oleh
oleh

 

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengimbau masyarakat mengenakan masker untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik yang masih berpotensi terbawa angin.

Bandarlampung, Kabarlampung.co  – Erupsi Gunung Anak Krakatau mulai menunjukkan dampak serius terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah Lampung. Konsentrasi sulfur dioksida (SO₂) di Bandar Lampung dan sekitarnya terpantau mencapai level yang perlu diwaspadai.

Hasil pemantauan kualitas udara menunjukkan konsentrasi SO₂ berada pada kisaran 212 hingga 224 mikrogram per meter kubik (µg/m³) . Kondisi tersebut masuk dalam kategori tidak sehat.

Tak hanya gas vulkanik, abu erupsi Gunung Anak Krakatau yang terbawa angin juga mengandung partikel berukuran sangat kecil yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.

Hasil pemeriksaan mikroskopis Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Lampung dengan pembesaran 100 kali menemukan partikel kristal berukuran sekitar 5 hingga 10 mikrometer.

Partikel tersebut berbentuk tidak beraturan dan cenderung tajam. Karakteristiknya yang keras dan abrasif, seperti silika, berpotensi menyebabkan iritasi apabila terhirup maupun mengenai mata dan kulit.

Kondisi ini membuat pemerintah daerah meminta masyarakat meningkatkan perlindungan diri, khususnya saat beraktivitas di luar ruangan.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengimbau masyarakat mengenakan masker untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik yang masih berpotensi terbawa angin.

“Gunakan masker, terutama ketika berada di luar rumah. Kita juga meminta masyarakat mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan instansi terkait mengenai perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau,” kata Jihan, Senin, (7/9/2026).

Ia juga meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak.

“Yang paling penting sekarang masyarakat tetap waspada. Kalau memang tidak ada keperluan mendesak, aktivitas di luar rumah dikurangi terlebih dahulu,” sambungnya.

Selain penggunaan masker, masyarakat diminta menutup ventilasi rumah guna mencegah abu vulkanik masuk ke dalam ruangan.

Warga yang mengalami gangguan pernapasan atau iritasi pada mata dan kulit juga diminta segera mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.

Sementara itu, berdasarkan hasil pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026 pukul 06.00–12.00 WIB,  gunung tersebut masih berstatus Level III atau Siaga.

Status tersebut membuat kewaspadaan terhadap dampak erupsi dan sebaran abu vulkanik tetap diperlukan, terutama di wilayah yang berpotensi terdampak arah angin.

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar mengandalkan informasi resmi dari BPBD, BMKG, dan PVMBG, serta tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi.

Di tengah meningkatnya dampak abu vulkanik, masyarakat diminta tidak panik, namun tetap waspada dan mengutamakan keselamatan serta kesehatan. (Ridho/Puji)

Tas Pancing MUrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.