
Lampung Selatan, Kabarlampung.co – Kasus 11 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, yang mengalami mual, muntah, dan sakit perut setelah menyantap hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG), kini berbuntut pada penangguhan operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ketapang 007.
Dapur SPPG yang berada di Desa Pematang Pasir tersebut ditangguhkan sementara setelah Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, Kamis, (18/9/2026) melakukan peninjauan langsung dan menemukan sejumlah fasilitas yang dinilai masih membutuhkan perbaikan.
Penangguhan dilakukan sembari menunggu proses evaluasi dan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan serta air yang telah diambil petugas Puskesmas Ketapang.
Sebelumnya, 11 siswa dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan setelah mengalami keluhan kesehatan usai menyantap menu MBG yang terdiri dari nasi, sayuran dan lauk udang.
Sebagian siswa yang telah mendapat penanganan medis diperbolehkan pulang untuk menjalani pemulihan dengan pemantauan petugas puskesmas. Sementara satu siswa masih menjalani perawatan di Puskesmas Ketapang.
Petugas Puskesmas Ketapang kemudian melakukan pemeriksaan ke dapur SPPG Pematang Pasir untuk menelusuri kemungkinan sumber keluhan tersebut.
Namun, hingga kini penyebab pasti belum dapat disimpulkan. Sampel makanan dan air telah dikirim untuk pemeriksaan laboratorium. Hasilnya diperkirakan baru diketahui sekitar tiga hari.
Bupati Temukan Sejumlah Persoalan Fasilitas
Dalam inspeksi ke dapur SPPG, Bupati Lampung Selatan menemukan sejumlah fasilitas yang perlu dievaluasi.
Di antaranya kapasitas daya listrik yang dinilai belum mencukupi, spesifikasi genset yang belum memenuhi kelengkapan persyaratan, hingga penataan area operasional dapur.
Atas temuan tersebut, Bupati menginstruksikan agar operasional SPPG ditangguhkan sementara sampai perbaikan fasilitas diselesaikan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan proses penyediaan makanan dalam program MBG memenuhi aspek keamanan dan kelayakan bagi para penerima manfaat.
Kepala SPPG Ketapang 007, Muhammad Syafrizal, membenarkan bahwa operasional dapurnya saat ini berstatus ditangguhkan.
Syafrizal yang berlatar belakang sarjana pertanian mengatakan, sampel makanan, termasuk olahan udang, telah diambil untuk pemeriksaan laboratorium.
Pihaknya juga mengaku telah menangani para siswa yang mengalami keluhan dengan membawa mereka ke fasilitas kesehatan.
IPAL Bocor hingga Daya Listrik Jadi Sorotan
Selain persoalan kelistrikan, pengelola SPPG mengakui masih akan melakukan evaluasi terhadap instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
IPAL tersebut dilaporkan mengalami kebocoran dan menimbulkan bau.
Pengelola SPPG telah berkoordinasi dengan mitra serta Yayasan Danapati Lampung Utara terkait sejumlah rencana perbaikan, termasuk penambahan kapasitas daya listrik.
Saat terjadi penurunan daya listrik, pihak SPPG mengaku melakukan langkah antisipasi dengan mematikan sementara ruangan maupun peralatan yang dinilai tidak membutuhkan listrik secara langsung.
Sementara untuk bahan baku, Syafrizal menyebut selama ini sebagian pasokan didatangkan dari Bandarlampung.
Penggunaan bahan baku lokal, menurutnya, masih dalam tahap evaluasi bersama mitra dan yayasan.
Terkait penyimpanan bahan makanan, Syafrizal menjelaskan bahan baku biasanya datang setiap dua hari. Sebagian bahan yang datang langsung diproses pada hari yang sama.
“Barang datang sekitar pukul 08.00 atau 09.00. Ketika barang datang, kita masukkan ke freezer sebentar, kemudian sekitar pukul 13.00 atau 14.00 baru diolah,” jelas Syafrizal.
Di sisi lain, proses sertifikasi halal bagi sejumlah supplier disebut masih berlangsung.
Publik Pertanyakan Pengawasan Dapur MBG
Kasus di SPPG Ketapang 007 kini tidak hanya menyisakan persoalan mengenai penyebab siswa mengalami gangguan kesehatan.
Lebih jauh, temuan sejumlah fasilitas yang masih harus diperbaiki memunculkan pertanyaan publik mengenai bagaimana proses verifikasi dan pengawasan terhadap dapur SPPG sebelum dinyatakan dapat beroperasi.
Program MBG menyangkut makanan yang dikonsumsi anak-anak. Karena itu, kelayakan dapur, fasilitas pendukung, sanitasi, pengolahan bahan makanan, hingga pengawasan rantai pasok menjadi aspek yang mendapat perhatian publik.
Temuan di Ketapang juga memunculkan kekhawatiran di masyarakat mengenai kemungkinan adanya fasilitas SPPG lain yang memiliki persoalan serupa.
Namun, kekhawatiran tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa terdapat banyak dapur SPPG lain yang tidak memenuhi standar. Hal itu membutuhkan pemeriksaan dan data resmi dari pihak berwenang.
Karena itu, sorotan berikutnya bukan hanya tertuju pada SPPG Ketapang 007, tetapi juga pada mekanisme pengawasan, verifikasi kelayakan, serta evaluasi berkala terhadap seluruh dapur penyedia MBG.
Hingga kini, penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami para siswa masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan air.
Hasil laboratorium nantinya menjadi bagian penting untuk memastikan apakah keluhan para siswa berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi atau disebabkan faktor lainnya. (Roy)










