
Lampung Selatan, Kabarlampung.co – Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Dua kali erupsi terjadi dalam selang waktu hanya 15 menit pada Senin malam, 5 Oktober 2026.
Letusan tercatat masing-masing pada pukul 20.13 WIB dan 20.28 WIB. Meski kembali mengalami erupsi, aktivitas Gunung Anak Krakatau disebut berangsur melandai dan statusnya masih berada pada Level II atau Waspada.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Hargo Pancuran, Andi Suardi, mengatakan dua letusan tersebut diduga merupakan bagian dari pelepasan energi vulkanik.
“Tadi malam ada erupsi dua kali, yaitu pukul 20.13 WIB dan 20.28 WIB. Kemungkinan itu sisa pelepasan energi. Setelah itu, aktivitas kembali melandai seperti biasa dan status tetap berada di Level II atau Waspada,” ujar Andi saat ditemui di Pos Pantau, Selasa (6/10/2026).
Daratan Baru Bukan Anak Gunung
Kemunculan daratan baru di sekitar kawasan kawah GAK juga menjadi perhatian. Namun, fenomena tersebut dipastikan bukan tanda munculnya gunung baru.
Andi menjelaskan, daratan yang terlihat merupakan akumulasi material longsoran tsunami 2018 yang mengendap di dasar laut dan secara bertahap mendekati permukaan.
Material tersebut kemudian bertambah akibat timbunan hasil erupsi terbaru.
“Daratan baru itu merupakan akumulasi material dari longsoran saat tsunami 2018 lalu yang mengendap di dasar laut mendekati permukaan. Ditambah lagi dengan tumpukan material letusan baru-baru ini,” jelasnya.
Akumulasi material tersebut membuat permukaan daratan semakin terangkat dan memperluas tubuh Gunung Anak Krakatau.
Delapan Baterai Alat Pantau Hilang
Di tengah aktivitas vulkanik tersebut, pemantauan GAK sempat menghadapi kendala setelah delapan unit aki atau baterai pendukung alat pemantauan dilaporkan hilang.
Kondisi itu sempat berdampak terhadap sebagian perangkat pendukung. Namun, tim pengamatan bergerak cepat dengan memasang baterai cadangan.
“Dampaknya memang sebagian alat pendukung sempat tidak beroperasi karena kekurangan daya baterai. Namun untuk peralatan utama langsung kita pasang baterai cadangan, sehingga transmisi data pengamatan tetap berjalan lancar,” kata Andi.
Dengan kondisi tersebut, pemantauan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tetap dilakukan melalui peralatan utama yang berfungsi normal.
Radius Dua Kilometer Jadi Zona Terlarang
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap setiap perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat, nelayan, wisatawan, hingga pengguna jasa pelayaran di kawasan Selat Sunda juga diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi atau hoaks mengenai aktivitas gunung api tersebut.
Yang paling penting, masyarakat diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius dua kilometer.
Larangan tersebut diberlakukan untuk mengantisipasi potensi bahaya berupa lontaran material pijar maupun hembusan abu vulkanik yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Meski status GAK masih Level II atau Waspada, aktivitas erupsi menjadi pengingat bahwa kawasan sekitar gunung api aktif tetap memiliki potensi bahaya dan harus dihindari sesuai batas aman yang ditetapkan. (Roy)









