Puluhan Tahun Jalan Rusak, Warga Sukajaya Lampung Selatan Patungan Beli Semen

oleh
oleh
Pada Minggu (11/10/2026), warga bergotong royong menambal dan memperbaiki jalan menggunakan semen, pasir, serta material lain yang dibeli dari hasil iuran sukarela. Puluhan sak semen pun digunakan agar jalan yang rusak tetap bisa dilalui.

Lampung Selatan,Kabarlampung.co – Puluhan tahun jalan rusak tak kunjung diperbaiki. Warga Dusun Siring Babaran, Desa Sukajaya, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan, akhirnya terpaksa merogoh kocek sendiri untuk membeli puluhan zak semen demi memperbaiki akses jalan yang menjadi tumpuan aktivitas sehari-hari.

Kondisi ini memunculkan sorotan terhadap Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan. Pasalnya, jalan tersebut disebut sudah berulang kali didata dan diukur petugas, tetapi hingga kini belum ada realisasi perbaikan menyeluruh yang dirasakan masyarakat.

Pada Minggu (11/10/2026), warga bergotong royong menambal dan memperbaiki jalan menggunakan semen, pasir, serta material lain yang dibeli dari hasil iuran sukarela. Puluhan zak semen pun digunakan agar jalan yang rusak tetap bisa dilalui.

Acong, salah satu tokoh masyarakat Dusun Siring Babaran, mengatakan seluruh material perbaikan berasal dari uang patungan warga.

“Kami sokongan, Pak. Hari ini habis puluhan sak semen hasil sokongan warga, begitu juga pasir dan lainnya,” ujar Acong.

Menurutnya, jalan tersebut terakhir kali diaspal pada 2010. Sejak itu, kerusakan terus terjadi tanpa perbaikan menyeluruh. Warga pun harus menghadapi kondisi jalan yang dinilai membahayakan keselamatan pengguna.

“Jalan ini diaspal tahun 2010. Jalan ini pun sudah banyak memakan korban, Pak. Sampai saat ini belum diaspal ulang. Sudah berulang-ulang diukur oleh petugas, tetapi tidak ada tindak lanjut,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Pernyataan tersebut menjadi gambaran kekecewaan warga yang selama bertahun-tahun menanti perbaikan. Pendataan dan pengukuran yang berulang kali dilakukan semestinya menjadi dasar tindak lanjut, bukan sekadar meninggalkan harapan tanpa kepastian.

Kerusakan jalan bukan hanya menyangkut kenyamanan berkendara. Akses yang buruk juga berpotensi menghambat mobilitas warga, kegiatan ekonomi, perjalanan anak-anak menuju sekolah, hingga kebutuhan masyarakat lainnya.

Ironisnya, ketika perbaikan dari pemerintah belum kunjung terealisasi, warga justru harus mengeluarkan uang sendiri agar jalan tetap dapat digunakan. Semangat gotong royong memang patut diapresiasi, tetapi kondisi ini sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai tanggung jawab dan prioritas pembangunan infrastruktur dasar di wilayah tersebut.

Warga tidak sekadar membutuhkan pengukuran ulang, tetapi kepastian perbaikan. Pemerintah daerah perlu menjelaskan apakah usulan penanganan jalan tersebut telah masuk dalam perencanaan pembangunan, apa kendala yang dihadapi, serta kapan perbaikan dapat direalisasikan.

Hingga persoalan itu terjawab, warga masih harus mengandalkan swadaya untuk menangani kerusakan yang seharusnya mendapat perhatian serius. Apalagi, menurut keterangan warga, jalan tersebut telah menimbulkan korban.

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan diharapkan segera meninjau langsung kondisi jalan di Dusun Siring Babaran sekaligus menelusuri tindak lanjut pendataan yang telah dilakukan. Penjelasan terbuka mengenai rencana penanganan sangat dibutuhkan agar masyarakat tidak terus-menerus menunggu tanpa kepastian.

Sebab, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari berapa kali jalan didata atau diukur. Ukuran sesungguhnya adalah apakah kebutuhan masyarakat benar-benar ditindaklanjuti melalui perbaikan nyata.

Jangan sampai jalan di Siring Babaran hanya berkali-kali masuk pendataan, sementara warga terus patungan membeli semen demi bertahan di tengah kerusakan yang tak kunjung terselesaikan. (Aceng/Gelly)

Tas Pancing MUrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.