Tiga Hari Pencarian, Nelayan Hilang di Labuhan Jukung Pesibar Ditemukan Tewas

oleh
oleh
Proses korban dievakuasi oleh tim SAR gabungan dan dibawa ke RSUD KH M. Thohir Krui untuk penanganan lebih lanju.

Pesisir Barat, Kabarlampung.co  – Pencarian selama tiga hari terhadap Sahroni (45), nelayan asal Seray, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, berakhir duka. Korban ditemukan meninggal dunia di perairan Labuhan Jukung pada Kamis (22/10/2026) dini hari.

Sahroni sebelumnya dilaporkan hilang setelah perahu yang digunakannya untuk melaut ditemukan dalam kondisi terbalik di perairan Pantai Labuhan Jukung, Pekon Kampung Jawa, Senin (19/10/2026).

Harapan keluarga agar korban segera ditemukan dalam keadaan selamat pupus setelah nelayan setempat melihat keberadaan Sahroni di tengah laut. Informasi tersebut menjadi titik terang setelah tim SAR gabungan berjibaku melakukan pencarian di tengah gelombang tinggi dan angin kencang.

Komandan Unit Siaga SAR Pesisir Barat, Ari Wiranata, mewakili Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Lampung, mengatakan informasi penemuan korban diterima tim sekitar pukul 00.05 WIB dari nelayan setempat.

Tim langsung bergerak menuju lokasi yang dilaporkan. Lima menit kemudian, tepatnya sekitar pukul 00.10 WIB, korban berhasil ditemukan pada koordinat 5°11’30.97” LS dan 103°54’43.16” BT.

“Korban ditemukan sekitar tiga mil laut ke arah barat laut dari lokasi kejadian yang diperkirakan. Selanjutnya, korban dievakuasi oleh tim SAR gabungan dan dibawa ke RSUD KH M. Thohir Krui untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Ari dalam keterangan resminya.

Gelombang Tinggi hingga 2,5 Meter Hambat Pencarian

Upaya menemukan Sahroni bukan perkara mudah. Sejak laporan kehilangan diterima pada Senin (19/10/2026), tim SAR gabungan melakukan penyisiran di sejumlah titik perairan yang diduga menjadi lokasi korban terjatuh.

Pada Selasa (20/10/2026) dan Rabu (21/10/2026), pencarian diperluas dengan membagi personel ke dalam tiga search and Rescue Unit (SRU).

Tim menyisir perairan berdasarkan perhitungan SAR Map Prediction, melakukan pemantauan visual, mengerahkan drone, serta meminta bantuan nelayan setempat untuk memantau kemungkinan keberadaan korban.

Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Kondisi laut yang tidak bersahabat, dengan gelombang mencapai 1,5 hingga 2,5 meter disertai angin kencang, menjadi tantangan serius bagi personel yang melakukan pencarian.

Kondisi tersebut membuat operasi harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan keselamatan seluruh personel di lapangan.

Banyak Unsur Terlibat, Operasi SAR Resmi Ditutup

Pencarian Sahroni melibatkan berbagai unsur, mulai dari Tim Rescue Unit Siaga SAR Pesisir Barat, BPBD Kabupaten Pesisir Barat, Ditpolairud Polda Lampung, Satpolairud Polres Pesisir Barat, Koramil Pesisir Tengah, Polsek Pesisir Tengah, Puskesmas Pesisir Barat, hingga masyarakat dan nelayan setempat.

Setelah korban ditemukan dan dievakuasi, operasi SAR gabungan resmi dihentikan. Seluruh personel yang terlibat dikembalikan ke satuan masing-masing.

Basarnas Lampung menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang telah bekerja selama proses pencarian, termasuk masyarakat dan nelayan yang turut memberikan informasi penting hingga korban berhasil ditemukan.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan risiko tinggi yang dihadapi nelayan saat melaut, terutama ketika kondisi cuaca dan gelombang tidak bersahabat. Kewaspadaan terhadap prakiraan cuaca serta penggunaan perlengkapan keselamatan menjadi hal penting untuk mengurangi risiko kecelakaan di laut. (Lili/Puji)

Tas Pancing MUrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.