
Lampung Barat, Kabarlampung.co – Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Lampung Barat menyiapkan tiga terobosan strategis untuk mengoptimalkan potensi daerah. Mulai dari pengembangan Geopark Kaldera Suoh, penguatan Kampus Lapangan Geologi, hingga penerapan teknologi kultur jaringan tanaman di Kebun Raya Liwa, program-program ini diarahkan untuk memperkuat riset, konservasi, pendidikan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Tak sekadar mengembangkan penelitian, Brida juga membidik pemanfaatan hasil inovasi agar memiliki nilai tambah dan berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kepala Brida Lampung Barat, Nowo Wibawono, mengatakan sejumlah program strategis terus dikembangkan sejak dirinya mulai menjabat pada Oktober 2025.
” ketiga program tersebut memiliki fokus berbeda, tetapi saling mendukung dalam mengoptimalkan potensi geologi, memperkuat pendidikan dan penelitian, serta melestarikan kekayaan hayati daerah, ” Ujarnya Nowo saat ditemui diruang kerjanya, Jumat (23/8/2026).
Geopark Kaldera Suoh Jadi Andalan
Menurut Nowo, pengembangan Geopark Kaldera Suoh menjadi salah satu program yang terus didorong Brida Lampung Barat sejak 2022.
Kawasan ini menyimpan potensi geologi yang dapat dikembangkan untuk kegiatan penelitian, edukasi, konservasi, hingga pariwisata berbasis alam.
Jika dikelola secara terencana dan berkelanjutan, potensi Kaldera Suoh bukan hanya memperkuat identitas geologi Lampung Barat, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.
Pengembangan destinasi, promosi wisata, serta keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar potensi tersebut dapat memberikan manfaat nyata, bukan sekadar menjadi kekayaan alam yang belum tergarap maksimal.
Kampus Lapangan Geologi Gandeng Sejumlah Universitas
Brida Lampung Barat juga mengembangkan Kampus Lapangan Geologi sebagai sarana pendidikan dan penelitian ilmu kebumian.
Program ini membuka peluang bagi mahasiswa dan peneliti untuk mempelajari langsung karakteristik geologi Lampung Barat melalui kegiatan lapangan.
Untuk mendukung pengembangannya, Brida telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, yakni Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sriwijaya (Unsri), Institut Teknologi Sumatera (Itera), Universitas Jambi (Unja), Universitas Lampung (Unila), dan Universitas Padjadjaran (Unpad).
Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat posisi Lampung Barat sebagai lokasi potensial untuk kegiatan pendidikan dan penelitian geologi.
Dampak program ini juga berpeluang meluas ke sektor ekonomi masyarakat. Kehadiran mahasiswa, peneliti, dan rombongan akademik dapat menciptakan kebutuhan terhadap penginapan, konsumsi, transportasi, serta berbagai layanan pendukung lainnya.
Dengan pengelolaan yang tepat, kegiatan akademik tersebut berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal.
Kultur Jaringan Kebun Raya Liwa Dibidik Jadi Program Unggulan
Terobosan berikutnya adalah pengembangan teknologi kultur jaringan tanaman di Kebun Raya Liwa (KRL).
Kebun raya ini memiliki potensi keanekaragaman tumbuhan, di antaranya pakis ekor monyet, 41 jenis tanaman obat, serta koleksi tanaman dalam taman Araceae dan taman anggrek.
Kekayaan tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat fungsi Kebun Raya Liwa sebagai kawasan konservasi sekaligus pusat penelitian dan pengembangan tumbuhan.
Teknologi kultur jaringan memungkinkan perbanyakan tanaman melalui bagian jaringan tumbuhan dalam kondisi terkontrol. Metode ini dapat membantu menghasilkan bibit dalam jumlah lebih banyak dengan karakteristik yang relatif seragam, bergantung pada jenis tanaman dan teknik yang digunakan.
Bagi tanaman tertentu yang sulit diperbanyak secara konvensional atau memiliki populasi terbatas, teknologi ini juga berpotensi mendukung upaya pelestarian.
Brida berharap Kebun Raya Liwa tidak hanya menjadi tempat konservasi dan koleksi tumbuhan, tetapi juga berkembang sebagai pusat penelitian, pengembangan teknologi, dan perbanyakan bibit yang bermanfaat bagi masyarakat.
Bidik Peluang PAD dari Hasil Riset
Pengembangan kultur jaringan tidak hanya berorientasi pada penelitian dan pelestarian lingkungan. Program ini juga membuka peluang ekonomi melalui produksi bibit tanaman yang dapat dimanfaatkan masyarakat, pelaku usaha pertanian, dan sektor perkebunan sesuai jenis tanaman yang dikembangkan.
Apabila didukung fasilitas memadai, tenaga ahli, kualitas bibit yang terjaga, serta permintaan pasar yang jelas, produksi bibit berpotensi menjadi sumber pendapatan baru.
Namun, peluang tersebut tidak otomatis menjadi tambahan PAD. Diperlukan perhitungan biaya produksi, penentuan jenis tanaman unggulan, strategi pemasaran, serta mekanisme pengelolaan hasil yang sesuai dengan ketentuan.
Karena itu, keberhasilan program akan ditentukan oleh kemampuan menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan nyata masyarakat dan pasar.
Dengan pendekatan tersebut, riset diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan ilmiah, melainkan menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus tetap mendukung konservasi keanekaragaman hayati Lampung Barat.
Gandeng Ahli Unila Perkuat Kultur Jaringan
Untuk mendukung penerapan teknologi kultur jaringan, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat melalui Brida menjalin kerja sama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung.
Kolaborasi ini melibatkan tenaga ahli, yakni Prof. Endang Linirin dan Prof. Endang Nurwijayanti.
Keterlibatan akademisi diharapkan memperkuat penelitian, penerapan metode perbanyakan tanaman, pengendalian kualitas bibit, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Dukungan tenaga ahli juga penting untuk menentukan jenis tanaman yang layak dikembangkan, baik untuk kepentingan konservasi flora lokal maupun peluang pemanfaatan ekonominya.
Sinergi pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi salah satu faktor penting agar inovasi yang dikembangkan memiliki dasar ilmiah dan dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Tantangan Berikutnya, Membuktikan Manfaat bagi Masyarakat
Tiga program Brida Lampung Barat tersebut memperlihatkan upaya menghubungkan potensi alam, pendidikan, penelitian, dan inovasi untuk mendukung pembangunan daerah.
Geopark Kaldera Suoh berpeluang memperkuat wisata dan edukasi geologi. Kampus Lapangan Geologi dapat mendorong aktivitas akademik, sedangkan kultur jaringan di Kebun Raya Liwa membuka kesempatan pengembangan bibit tanaman sekaligus konservasi.
Meski demikian, keberhasilan terobosan tersebut tidak cukup diukur dari banyaknya program atau kerja sama yang dibangun.
Dampak nyata perlu terlihat melalui peningkatan kegiatan penelitian, bertambahnya manfaat ekonomi bagi masyarakat, terjaganya koleksi tumbuhan, serta munculnya produk inovasi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Bagi Brida Lampung Barat, tantangan berikutnya adalah memastikan potensi tersebut benar-benar dikembangkan menjadi hasil nyata, sehingga riset dan inovasi tidak hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah. (Lili)










