590 Anggota Baru, Pemkot Bandar Lampung Genjot BUKA BUKU

oleh
oleh
Langkah tersebut ditandai dengan diseminasi pelaksanaan milestone jangka pendek proyek perubahan BALAM READS, Jumat (6/11/2026).

Bandarlampung, Kabarlampung.co – Pemerintah Kota Bandarlampung mulai menggenjot budaya membaca melalui optimalisasi aplikasi perpustakaan digital BUKA BUKU. Lewat gerakan BALAM READS (Read, Engage, Access, Digital Society), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) berupaya mengubah pola layanan perpustakaan agar lebih dekat dengan masyarakat di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Langkah tersebut ditandai dengan diseminasi pelaksanaan milestone jangka pendek proyek perubahan BALAM READS, Jumat (6/11/2026).

Program ini tidak sekadar memperkenalkan aplikasi digital, tetapi juga mendorong masyarakat, khususnya pelajar, agar menjadikan membaca sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

Kepala Dispusip Kota Bandarlampung sekaligus Project Leader BALAM READS, Hidayat Ismet, menegaskan bahwa tantangan perpustakaan saat ini bukan lagi sekadar menyediakan buku dan fasilitas, melainkan bagaimana memastikan layanan tersebut benar-benar dikenal dan dimanfaatkan masyarakat.

Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi menuntut perpustakaan untuk beradaptasi. Pemanfaatan teknologi menjadi kebutuhan agar layanan literasi tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.

Hidayat menekankan, BALAM READS bukan proyek untuk membangun aplikasi baru. Fokus utamanya justru mengoptimalkan BUKA BUKU yang telah tersedia agar jangkauan layanan perpustakaan digital semakin luas.

“BALAM READS bukan membangun aplikasi baru, melainkan menggerakkan perubahan agar BUKA BUKU yang telah tersedia dapat dikenal, diakses, dan dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.

Dalam evaluasi awal, Dispusip mengidentifikasi empat persoalan utama yang masih menjadi hambatan, yakni kapasitas sumber daya manusia aparatur, promosi yang masih konvensional, ketersediaan koleksi dan konten elektronik, serta lingkungan literasi yang perlu terus diperkuat.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan aplikasi digital saja tidak cukup. Tanpa sosialisasi, keterlibatan pengguna, dan ketersediaan bahan bacaan yang memadai, teknologi berpotensi hanya menjadi fasilitas yang tersedia tanpa pemanfaatan optimal.

Untuk menjawab persoalan itu, BALAM READS mengusung strategi 3E, yakni Educate, Engage, dan Empower.

Tahap educate diarahkan untuk mengenalkan layanan dan meningkatkan pemahaman masyarakat. Selanjutnya, Engage mendorong keterlibatan aktif pengguna, sedangkan Empower berfokus pada pemberdayaan masyarakat agar menjadi bagian dari gerakan literasi digital.

“Kami ingin membangun perubahan perilaku dan kolaborasi. Bukan sekadar memperkenalkan sebuah aplikasi, tetapi mendorong masyarakat untuk benar-benar memanfaatkannya,” jelas Hidayat.

Dari sisi kelembagaan, optimalisasi BUKA BUKU telah memiliki landasan formal melalui SK Wali Kota Bandar Lampung Nomor 669/III.18/HK/2026 tentang Penetapan Inovasi Aplikasi BUKA BUKU sebagai Layanan Perpustakaan Digital Pemerintah Kota Bandarlampung.

Dalam pelaksanaannya, Tim Efektif Proyek Perubahan menggandeng sejumlah organisasi perangkat daerah dan unsur masyarakat, di antaranya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, BAPPERIDA, Bagian Hukum Setda, Diskominfo, serta komunitas PMII.

Kolaborasi tersebut telah diwujudkan melalui sosialisasi di 21 satuan pendidikan tingkat SD dan SMP serta produksi konten kreatif berbasis <span;>edutainment<span;> untuk memperluas jangkauan promosi.

Hasilnya mulai terlihat dari peningkatan statistik pemanfaatan aplikasi BUKA BUKU. Jumlah anggota yang sebelumnya 423 orang melonjak menjadi 1.013 orang atau bertambah 590 anggota.

Capaian tersebut setara 101,3 persen dari target minimal 1.000 anggota yang telah ditetapkan.

Tak hanya jumlah anggota, indikator pemanfaatan layanan lainnya juga menunjukkan peningkatan. Pembaca aktif naik dari 3 menjadi 39 orang, sirkulasi buku meningkat dari 11 menjadi 134, sedangkan jumlah pengunjung bertambah dari 109 menjadi 260 orang.

Meski demikian, peningkatan jumlah anggota masih perlu diikuti dengan penguatan aktivitas membaca dan pemanfaatan koleksi digital secara berkelanjutan. Sebab, keberhasilan perpustakaan digital tidak semata diukur dari banyaknya masyarakat yang mendaftar, tetapi juga dari seberapa aktif mereka membaca dan mengakses bahan bacaan.

Hidayat menegaskan, keberlanjutan BALAM READS menjadi pekerjaan penting agar perubahan yang telah dibangun tidak berhenti setelah proyek jangka pendek selesai.

“Keberlanjutan bukan sekadar melanjutkan kegiatan, tetapi melembagakan perubahan dalam pelayanan,” tegasnya.

Melalui BALAM READS, Pemkot Bandar Lampung berharap BUKA BUKU tidak hanya menjadi aplikasi perpustakaan digital, tetapi berkembang menjadi pintu masuk membangun masyarakat yang lebih dekat dengan budaya membaca dan mampu beradaptasi dengan ekosistem informasi digital. (Ridho/Puji)

Tas Pancing MUrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.