
Lampung Selatan, Kabarlampung.co – Suasana di kawasan Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, memanas. Puluhan sopir truk bermuatan gabah memprotes kebijakan pemutaran balik kendaraan yang hendak membawa gabah dari Lampung menuju Pulau Jawa.
Protes ini dipicu setelah empat truk bermuatan gabah asal Lampung diputar balik Satgas Pangan Kodim 0421 Lampung Selatan bersama Satpol PP Provinsi Lampung, Jumat (28/8/2026).
Truk tersebut dinilai belum memenuhi kelengkapan dokumen sesuai ketentuan Peraturan Gubernur Lampung Nomor 7 Tahun 2026 tentang Pengawasan dan Pengendalian Distribusi Gabah.
Dantim Satgas Pangan, Irfan, mengatakan pengawasan dilakukan untuk memastikan distribusi gabah dari Lampung berjalan sesuai aturan.
Truk yang belum memenuhi persyaratan diminta kembali ke daerah asal untuk melengkapi dokumen sebelum diperbolehkan melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa.
Namun, kebijakan tersebut justru memicu gelombang protes. Puluhan sopir dan pengirim gabah bertahan di kawasan Pelabuhan Bakauheni sejak Sabtu malam hingga Minggu dini hari.
Salah seorang sopir, Megi, asal Rawa Jitu, mengaku keberatan dengan pembatasan distribusi gabah tersebut. Ia menilai pembeli dari Pulau Jawa justru membantu meningkatkan harga gabah petani Lampung.
“Kami juga sebagai pedagang, pengirim dan pembeli barang. Dampaknya ke petani sangat positif karena harga jadi tinggi. Pabrik-pabrik lokal tidak bisa mengikuti harga pembelian dari pedagang Jawa karena harganya terlalu rendah,” kata Megi.
Menurutnya, larangan atau penundaan penyeberangan justru berpotensi merugikan pedagang sekaligus petani. Truk dan muatan yang tertahan membuat biaya terus berjalan, sementara gabah tidak kunjung sampai ke pembeli.
“Kalau tidak bisa menyeberang, kami sangat dirugikan. Petani Lampung mengharapkan harga gabah naik. Dengan adanya pembeli dari Jawa, otomatis harga menjadi tinggi. Kalau ditahan seperti ini, petani yang merasa dirugikan,” ujarnya.
Megi mengaku sudah dua malam tertahan di kawasan Pelabuhan Bakauheni karena truk yang dibawanya belum diperbolehkan menyeberang.
“Sudah dua malam saya tertahan di sini,” katanya.
Situasi kemudian mendapat pengamanan dari petugas ASDP, TNI, dan Polri. Petugas berupaya meredam ketegangan dengan menggelar dialog dan mediasi bersama para sopir serta pengirim gabah.
Namun, di tengah proses mediasi, situasi kembali memanas. Puluhan truk bermuatan gabah yang berada di kawasan Pelabuhan Bakauheni dilaporkan menerobos dan tetap melanjutkan perjalanan menyeberang menuju Pulau Jawa.
Aksi tersebut menjadi puncak protes para sopir yang menilai kebijakan pembatasan distribusi gabah telah menimbulkan kerugian bagi mereka dan berpotensi berdampak terhadap harga gabah di tingkat petani.
Persoalan ini kini menjadi sorotan, di tengah upaya pemerintah mengatur distribusi gabah Lampung agar berjalan sesuai ketentuan, namun di sisi lain berhadapan dengan kepentingan pedagang, sopir, dan petani yang menggantungkan penghasilan dari kelancaran distribusi hasil panen. (Roy)








