
Lampung Selatan, Kabarlampung.co – Kebakaran KMP Batu Mandi bukan hanya menyisakan trauma bagi para penumpang, tetapi juga kerugian materiil yang harus ditanggung korban. Purnomo (50), warga Desa Bumidaya, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, kehilangan seluruh barang bawaan, termasuk kostum tari dan uang tunai senilai total sekitar Rp16 juta.
Ironisnya, barang-barang tersebut bukan sekadar bawaan perjalanan biasa. Kostum tari itu merupakan perlengkapan penting untuk pementasan Tari Gandrung di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Purnomo bersama dua anak didiknya berangkat untuk memenuhi undangan pertunjukan sekaligus mewakili Provinsi Lampung.
Namun, misi membawa kesenian Lampung ke panggung Banyuwangi berubah menjadi pengalaman mencekam setelah KMP Batu Mandi terbakar di tengah pelayaran dari Pelabuhan Bakauheni menuju Merak, 21 Oktober 2026.
Purnomo, Jumat (30/10/2026), menuturkan, kepanikan mulai terjadi ketika alarm tanda bahaya kapal berbunyi. Berbekal pengalamannya melakukan perjalanan laut, ia menyadari bunyi tersebut menandakan kondisi darurat.
Tanpa menunggu situasi semakin buruk, Purnomo segera mengajak kedua anak didiknya menuju dek atas untuk mencari pelampung keselamatan. Namun, situasi sudah kacau.
Penumpang berdesakan dan berebut pelampung hingga ketiganya tidak kebagian alat keselamatan tersebut.
Kondisi semakin mencekam ketika asap hitam pekat mulai membubung dari bagian bawah kapal. Suara ledakan yang diduga berasal dari ban atau tangki bahan bakar kendaraan turut menambah kepanikan penumpang.
Di tengah ancaman api yang terus membesar, Purnomo berusaha menjaga kedua anak didiknya agar tidak terpencar. Ia meminta mereka tetap bersama dan tidak panik.
Saat sekoci penyelamat mulai diturunkan, ketiganya akhirnya berhasil menyelamatkan diri melalui jalur evakuasi darurat. Mereka kemudian dievakuasi petugas ke kapal penyelamat.
Begitu berhasil selamat di tengah laut, Purnomo langsung bersujud syukur. Baginya, keselamatan nyawa menjadi hal paling berharga setelah menghadapi detik-detik yang nyaris merenggut hidup mereka.
Namun, keselamatan itu harus dibayar dengan kehilangan seluruh barang bawaan. Kostum Tari Gandrung, uang tunai, serta sejumlah barang berharga lainnya hangus terbakar bersama kendaraan yang mereka tumpangi. Total kerugian ditaksir mencapai Rp16 juta.
Tak hanya kehilangan harta benda, peristiwa tersebut juga meninggalkan trauma psikologis, terutama bagi kedua anak didiknya yang ikut menyaksikan langsung kobaran api dan kepanikan penumpang di atas kapal.
Sekembalinya dari Banyuwangi, Purnomo mendatangi kantor PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni untuk mengajukan klaim asuransi dan meminta ganti rugi atas barang-barang yang hilang.
Namun, proses pengajuan klaim itu ternyata tidak berjalan mulus. Purnomo mengaku sempat kebingungan ketika diminta menunjukkan tiket penyeberangan dan STNK kendaraan yang ditumpanginya.
Persoalannya, dokumen tersebut tidak berada dalam penguasaannya. Tiket dan STNK dipegang sopir kendaraan yang turut menjadi korban kebakaran. Sementara seluruh dokumen dan barang bawaan sudah hangus dilalap api.
Kini, Purnomo berharap ASDP tidak hanya berfokus pada proses administrasi, tetapi juga memberikan solusi bagi penumpang yang kehilangan dokumen akibat musibah tersebut.
Ia meminta kejelasan mekanisme klaim serta kepastian ganti rugi atas kerugian yang dialaminya, termasuk uang tunai dan kostum tari yang menjadi perlengkapan utama dalam kegiatan kesenian.
Bagi Purnomo, kehilangan Rp16 juta bukan perkara kecil. Ia berharap hak-haknya sebagai penumpang mendapat perhatian dan penyelesaian yang jelas dari pihak ASDP, sehingga korban kebakaran KMP Batu Mandi tidak harus menghadapi persoalan baru setelah berhasil lolos dari maut. (Roy)








