Banjir Tahunan Terulang, Sungai Dangkal Dibiarkan, Ratusan Rumah Warga Lampung Utara Terendam

oleh
oleh
Banjir setinggi pingga orang dewasa terjadi di sejumlah kelurahan Cempedak, Kotabumi, Sabtu 17 Januari 2025.

Lampung Utara, Kabarlampung.co Hujan deras yang mengguyur Lampung Utara pada Sabtu malam kembali membuka luka lama. Sungai Way Uban, Way Sesah, dan Way Kalibening meluap, merendam ratusan rumah warga dengan ketinggian air mencapai satu hingga dua meter. Banjir yang terus berulang ini menegaskan lemahnya penanganan sungai dan mitigasi bencana di daerah tersebut.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Utara, hujan yang turun selama beberapa jam sejak tengah malam, Sabtu (17/1/2025), mengakibatkan permukiman warga di dua kecamatan, Kotabumi dan Abung Selatan, kembali terendam banjir.

Kepala BPBD Lampung Utara, Erwin Syahputra, menyebut wilayah terdampak meliputi Kecamatan Kotabumi, yakni Kelurahan Sribasuki sebanyak 33 rumah, Cempedak 64 rumah, Tanjung Harapan 4 rumah, dan Kota Alam 3 rumah. Sementara di Kecamatan Abung Selatan, banjir merendam 7 rumah di Desa Candimas dan 4 rumah di Desa Kalibening.

“Intensitas hujan cukup tinggi dan berlangsung lama, sehingga debit air sungai meningkat drastis dan meluap ke pemukiman,” kata Erwin.

Namun bagi warga, banjir ini bukanlah peristiwa luar biasa, melainkan kejadian yang terus berulang setiap tahun. Wayudin dan Husen, warga Kotabumi, menuturkan air tiba-tiba masuk ke halaman hingga ke dalam rumah saat warga masih terlelap tidur.

“Air cepat naik. Perabotan rumah terendam, kulkas dan televisi rusak. Kami tidak sempat menyelamatkan banyak barang,” ujar Wayudin.

Kondisi paling parah terjadi di Kelurahan Cempedak. Lurah Cempedak, Dedy Erwansyah, secara terbuka menyebut banjir sebagai “langganan tahunan” akibat Sungai Way Uban yang mengalami pendangkalan parah namun tak kunjung dinormalisasi.

“Setiap hujan deras, air pasti meluap. Sungai sudah dangkal, tapi belum ada penanganan serius. Warga selalu jadi korban,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah daerah segera melakukan normalisasi Sungai Way Uban agar banjir tidak terus berulang dan menimbulkan kerugian warga dari tahun ke tahun.

Saat ini, sebagian warga memilih bertahan di rumah dengan kondisi serba terbatas, sementara lainnya mengungsi ke rumah kerabat atau lokasi pengungsian yang disiapkan. Barang berharga dan dokumen penting telah diamankan, namun kerusakan rumah dan perabotan tak terhindarkan.

Banjir kali ini kembali mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah dalam mengantisipasi bencana yang sudah bisa diprediksi. Tanpa penanganan sungai yang konkret, warga Lampung Utara tampaknya harus terus bersiap menghadapi banjir yang sama, setiap musim hujan tiba.(AD)