
Lampung Utara, Kabarlampung.co – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Lampung Utara sejak Sabtu malam (31/1/2026) kembali memicu banjir di sejumlah wilayah. Air setinggi pundak orang dewasa merendam ratusan rumah warga, melumpuhkan aktivitas masyarakat, dan memaksa warga bertahan di rumah tanpa fasilitas layak.
Banjir terparah terjadi di Kelurahan Kota Alam, Kecamatan Kotabumi Selatan, khususnya di wilayah Rawa Karya, setelah Sungai Way Sesah meluap. Selain itu, sejumlah kelurahan di Kecamatan Kotabumi juga dilaporkan terdampak cukup parah.
Berdasarkan data sementara, rumah warga yang terendam banjir meliputi:
• Kecamatan Kotabumi Selatan:
Kelurahan Kota Alam 8 rumah, Kelurahan Tanjung Harapan 20 rumah.
• Kecamatan Kotabumi:
Kelurahan Sribasuki 16 rumah, Kotabumi Udik 79 rumah, Kotabumi Pasar 53 rumah.
Kepala BPBD Lampung Utara, Erwin Syahputra, menyebut banjir disebabkan tingginya intensitas curah hujan yang berlangsung cukup lama.
“Curah hujan yang tinggi menyebabkan debit air sungai meningkat hingga meluap ke permukiman warga,” ujarnya, Senin (2/2/2026).
Namun, di tengah kondisi darurat tersebut, belum satu pun tenda pengungsian didirikan oleh BPBD Lampung Utara. Ketiadaan tenda darurat ini menuai keluhan warga terdampak yang terpaksa bertahan di rumah terendam tanpa tempat tidur, dapur, maupun ruang aman untuk anak-anak dan lansia.
Warga Muara Jaya, Kelurahan Kotabumi Udik, Hendra, mengaku kebingungan sejak banjir melanda.
“Kalau bisa tolong kamilah. Sampai sekarang belum ada tenda bantuan. Kami bingung, jangankan untuk tidur, mau masak untuk makan saja tidak bisa,” keluhnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala BPBD Lampung Utara berdalih belum mendirikan tenda pengungsian karena keterbatasan lahan.
“Untuk tenda pengungsian memang belum kami dirikan karena membutuhkan area yang cukup luas,” kata Erwin.
Alasan tersebut dinilai tidak sejalan dengan kondisi di lapangan, mengingat banjir telah merendam ratusan rumah dan berlangsung hampir setiap tahun. Dalam situasi darurat, masyarakat menilai pemerintah daerah semestinya lebih sigap dan adaptif dalam menyiapkan solusi, termasuk memanfaatkan fasilitas umum atau lahan alternatif sebagai lokasi pengungsian sementara.
Lurah Kotabumi Pasar, Herman, yang wilayahnya juga terdampak, meminta pemerintah daerah segera turun tangan.
“Kami berharap BPBD segera memasang tenda pengungsian agar warga bisa mengungsi dengan layak. Kami juga meminta Dinas Sosial menyiapkan dapur umum,” tegasnya.
Banjir yang kembali berulang ini menegaskan lemahnya langkah antisipasi dan respons cepat pemerintah daerah. Warga berharap, bencana yang sudah menjadi agenda tahunan tidak lagi ditangani secara reaktif, melainkan dengan kesiapsiagaan nyata dan penanganan darurat yang berpihak pada keselamatan masyarakat.(Ridho)








