
Tanggamus, Kabarlampung.co – Upaya pencarian terhadap Sugiyo (60), petani asal Pekon Simpang Bayur, Kecamatan Bandar Negeri Semuong, berlangsung dramatis di tengah medan berbahaya. Korban diduga hilang setelah terseret derasnya arus Sungai Way Semuong saat memancing, Senin (13/4/2026).
Sejak Selasa (14/4/2026) pukul 11.30 WIB, aparat kepolisian bersama warga bergerak cepat menyisir aliran sungai. Kapolsek Wonosobo Iptu Tjasudin turun langsung memimpin operasi pencarian, menembus jalur terjal, bebatuan licin, dan akses sulit yang mengancam keselamatan tim.
Korban terakhir terlihat mengenakan kaos lengan panjang warna kehijauan dan celana training hitam. Ia pamit memancing sekitar pukul 14.30 WIB kepada anaknya, Agung Widianto. Meski sempat dilarang karena cuaca mendung, korban tetap berangkat menuju sungai.
Kekhawatiran keluarga berubah menjadi kepanikan saat Sugiyo tak kunjung pulang hingga malam. Kondisi diperparah dengan meningkatnya debit Sungai Way Semuong sekitar pukul 17.00 WIB akibat hujan deras di wilayah hulu, bahkan sempat memicu genangan di permukiman warga.
Pencarian awal oleh keluarga menemukan jejak tapak kaki yang diduga milik korban, sekitar tiga kilometer dari rumah. Temuan ini diperkuat keterangan dua saksi yang melihat korban tengah memancing di lokasi tersebut sebelum arus sungai membesar.
Berdasarkan analisa di lapangan, kuat dugaan korban terseret arus deras saat debit sungai meningkat drastis. Aparat pun mengerahkan personel Polsek Wonosobo, dibantu Brimob dan masyarakat setempat, untuk memperluas penyisiran.
Namun hingga sore hari, keberadaan korban belum juga ditemukan. Operasi pencarian akan dilanjutkan dengan melibatkan Basarnas, BPBD, serta unsur terkait lainnya, menyisir titik-titik rawan hingga ke hilir sungai.
Polisi mengimbau masyarakat di sepanjang aliran Sungai Way Semuong untuk segera melapor jika menemukan tanda-tanda keberadaan korban, agar proses pencarian dapat dipercepat.
Sementara itu, saksi mata menyebut hujan sudah mulai turun saat korban menuju lokasi memancing, memperkuat dugaan kondisi alam menjadi faktor utama dalam peristiwa ini. (*)







