
Bandarlampung, Kabarlampung.co – Di balik penugasan prajurit Batalyon Infanteri 143/Tri Wira Eka Jaya yang tengah menjalankan Satgas Pamtas Statis di Papua, geliat ekonomi justru tumbuh di dalam asrama. Para istri prajurit memilih tidak larut dalam penantian. Mereka bergerak, berkarya, dan menghasilkan.
Bergabung dalam Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXXIV Yonif 143, para istri prajurit ini menghidupkan usaha mikro berbasis kain tapis, warisan budaya khas Lampung yang kini kembali berdenyut dari tangan-tangan terampil mereka. Benang emas disulam menjadi motif gajah, kapal, hingga siger, simbol kejayaan budaya Sai Bumi Ruwa Jurai.
Ketua Persit, Nyonya Novla, menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari kesadaran bersama untuk tetap produktif di tengah penugasan suami mereka.
“Saat ini karena kami sedang ditinggal penugasan oleh para suami, kami berusaha menciptakan aktivitas positif bagi seluruh istri prajurit, salah satunya dengan belajar menapis,” ujar Novla, Selasa (21/04/2026), ditengah kesibukannya mengajari para anggotanya.
Ia menyebut, inisiatif ini diperkuat oleh adanya anggota Persit yang memiliki keahlian khusus dalam kerajinan tapis dan bersedia membagikan ilmunya kepada yang lain.
“Kami memiliki satu anggota yang ahli menapis, sehingga kami meminta bantuannya untuk mengajarkan kepada ibu-ibu lainnya,” tambahnya.
Tak berhenti pada tapis, kreativitas mereka terus berkembang. Berbagai produk turunan lahir dari tangan para ibu Persit, mulai dari makrame hingga olahan sisa kain tapis menjadi aksesoris bernilai jual seperti bros, kalung, dan tempat tisu.
Menurut Novla, tapis bukan sekadar produk ekonomi, melainkan identitas budaya yang harus dijaga.
“Kain tapis adalah ciri khas Lampung. Kami ingin memperkenalkannya lebih luas sekaligus memastikan tetap lestari di generasi mendatang,” tegasnya.
Produk-produk tersebut kini rutin dipasarkan melalui bazar dan dipamerkan saat kunjungan pejabat ke satuan, membuka peluang pasar yang lebih luas.
Salah satu penggerak kegiatan, Asri, mengaku telah menekuni usaha tapis selama tiga tahun dan kini aktif mengajarkan keterampilan tersebut kepada anggota lainnya.
“Di Persit ada kegiatan mengajarkan ibu-ibu cara menapis supaya ada aktivitas positif di asrama,” kata Asri, istri Kopda Angga Dwi Ferdian.
Bagi Asri, menapis bukan hanya soal seni, tetapi juga strategi bertahan dan berkembang.
“Saya bisa menapis saat waktu senggang, seperti ketika anak sekolah atau malam hari. Ini juga membantu menambah penghasilan keluarga,” ujarnya.
Produk yang dihasilkan pun kian variatif, dari kain tapis hingga kombinasi batik-tapis yang diolah menjadi busana seperti baju, outer, dan rok. Pemasaran dilakukan melalui media sosial hingga jaringan dari mulut ke mulut, dengan jangkauan pasar yang telah menembus luar daerah seperti Jakarta dan Solo.
Di saat para prajurit menjaga kedaulatan negara di garis depan, para istri mereka menguatkan ekonomi dari belakang. Dari asrama sederhana, tapis tak hanya dijaga, ia dihidupkan kembali sebagai simbol ketahanan, kreativitas, dan kemandirian. (Puji/Adi)







