Lampung Mulai Kemarau, Suhu Tembus 33 Derajat

oleh
oleh
Kondisi Cuaca Panas di Lampung, Minggu (31/5/2026).

Lampung, Kabarlampung.co – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Provinsi Lampung telah memasuki musim kemarau. Kondisi cuaca kering diperkirakan semakin terasa dengan puncak musim kemarau yang akan berlangsung pada Juli hingga September 2026.

Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Radin Inten II Lampung, Rudi Harianto, mengatakan suhu udara di sejumlah wilayah Lampung saat ini berkisar antara 31 hingga 33 derajat Celsius.

“Lampung sudah memasuki musim kemarau. Puncaknya kami prediksi terjadi pada Juli, Agustus, dan September. Suhu udara pada siang hari bisa mencapai 33 derajat Celsius,” kata Rudi, Minggu (31/5/2026).

Meski musim kemarau telah dimulai, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kondisi tersebut identik dengan tidak adanya hujan. Curah hujan masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah, namun dengan frekuensi dan intensitas yang lebih rendah dibandingkan musim penghujan.

“Musim kemarau bukan berarti hujan hilang sepenuhnya. Hujan masih bisa turun, tetapi jumlah dan intensitasnya cenderung berkurang,” ujarnya.

Di sisi lain, BMKG juga menepis kekhawatiran terkait fenomena El Nino yang kerap memicu kekeringan ekstrem. Hingga akhir Mei 2026, fenomena yang dijuluki sebagian kalangan sebagai “El Nino Godzilla” itu belum menunjukkan dampak signifikan terhadap kondisi cuaca di Lampung.

“Berdasarkan hasil pemantauan kami, sampai saat ini belum ada dampak El Nino yang signifikan di Lampung,” tegasnya.

Menghadapi musim kemarau, BMKG mengimbau masyarakat mulai mengantisipasi potensi kekurangan air dengan melakukan penghematan serta memperbaiki saluran atau instalasi yang bocor.

“Masyarakat perlu menggunakan air secara bijak, memperbaiki kebocoran, dan menyiapkan cadangan air untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Rudi.

Selain itu, BMKG meminta petani menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca yang lebih kering. Pemilihan komoditas yang tahan terhadap minimnya curah hujan juga dinilai penting untuk mengurangi risiko gagal panen.

“Petani dan pemerintah daerah harus meningkatkan kewaspadaan serta menyiapkan langkah antisipasi sejak dini guna meminimalkan dampak musim kemarau maupun potensi pengaruh El Nino,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.