Sawah Pringsewu Mengering, Ratusan Hektare Terancam Gagal Panen

oleh
oleh
Kepala Dusun 1 Pekon Pandansurat, Waluyo, mengatakan dampak kekeringan sudah terlihat meski hujan baru tidak turun selama sekitar tujuh hari terakhir.

Pringsewu, Kabarlampung.co Ancaman gagal panen menghantui ratusan hektare lahan persawahan di Pekon Pandansurat, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu. Baru sepekan tanpa hujan, hamparan sawah mulai mengering, retak-retak, dan kehilangan pasokan air yang menjadi penopang utama tanaman padi.

Kondisi kekeringan yang melanda wilayah tersebut semakin mengkhawatirkan. Sejumlah saluran irigasi dan drainase yang selama ini menjadi sumber pengairan petani kini ikut mengering. Tanah sawah tampak memutih akibat minimnya kandungan air, menjadi pertanda ancaman serius terhadap produktivitas pertanian.

Kepala Dusun 1 Pekon Pandansurat, Waluyo, mengatakan dampak kekeringan sudah terlihat meski hujan baru tidak turun selama sekitar tujuh hari terakhir. Menurutnya, keterbatasan sumber air membuat petani kesulitan menyelamatkan tanaman padi yang sedang tumbuh.

“Sekitar satu minggu kekeringan, dampaknya sudah terlihat. Tanah sudah putih karena tidak ada air. Sumur bor yang ada tidak mampu mengairi lahan yang luas. Di wilayah ini hanya ada dua sampai tiga sumur bor untuk sekitar 80 hektare sawah,” kata Waluyo, Rabu (3/6/2026).

Ia menilai kondisi kekeringan tahun ini lebih parah dibandingkan musim tanam sebelumnya. Jika tahun-tahun lalu masih ada hujan yang membantu pasokan air, kali ini petani sepenuhnya bergantung pada sumber air yang terbatas.

“Tahun ini lebih parah dibanding tahun sebelumnya. Dulu masih ada hujan yang membantu. Sekarang tanah sudah memutih. Untuk mengantisipasi gagal panen, petani sangat membutuhkan tambahan sumur bor,”ujarnya.

Waluyo berharap pemerintah segera turun tangan dengan menyediakan sarana pendukung pengairan, terutama pembangunan sumur bor di kawasan persawahan yang rentan kekeringan. Menurutnya, keberadaan air menjadi faktor utama untuk menjaga produksi padi dan mendukung program ketahanan pangan.

“Kami berharap pemerintah benar-benar memperhatikan kebutuhan petani. Saat ini yang paling dibutuhkan adalah air. Tanaman padi sebenarnya tumbuh bagus, tetapi terkendala pasokan air yang semakin sulit,” pungkasnya.

Kekeringan yang terjadi sejak awal musim tanam ini menjadi peringatan serius bagi sektor pertanian di Pringsewu. Tanpa langkah cepat dari pemerintah, ratusan hektare sawah berpotensi mengalami puso dan mengancam pendapatan petani serta ketahanan pangan daerah. (Puji/Nanang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.