
Bandarlampung, Kabarlampung.co – Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XXI/Radin Inten, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Kristomei Sianturi, menghadirkan warna baru dalam kepemimpinan di Kodam XXI/Radin Inten. Ketangguhan fisik, kedisiplinan prajurit, dan kemampuan berkomunikasi yang hangat dengan masyarakat menjadi ciri yang kerap ditunjukkannya di berbagai kesempatan.
Sebagai Pangdam pertama di Kodam XXI/Radin Inten, lulusan Akademi Militer 1997 itu mengedepankan kepemimpinan yang tegas, namun tetap humanis. Di lapangan, ia tak sekadar memberi instruksi, tetapi memilih memberi teladan secara langsung.
Salah satu momen yang menarik perhatian terjadi saat kegiatan internal bersama prajurit. Di hadapan anggotanya, Mayjen Kristomei turun langsung melakukan 45 kali gerakan push-up tanpa jeda. Aksi tersebut disambut sorak dan hitungan serempak dari para prajurit hingga repetisi terakhir, menggambarkan semangat sekaligus soliditas di lingkungan satuan.
Keteladanan fisik itu mempertegas jati dirinya sebagai perwira Korps Infanteri yang dikenal memiliki tuntutan ketahanan fisik, disiplin, dan kesiapan tinggi dalam setiap penugasan.
Tak hanya tampil tegas di lingkungan militer, Mayjen Kristomei juga menunjukkan sisi komunikatif saat berinteraksi dengan masyarakat. Dalam salah satu kunjungan kerja, suasana yang semula formal berubah hangat ketika ia menyapa warga melalui pantun.
“Empat tambah empat sama dengan delapan. Jembatan kuat harus diikat,” ucapnya yang langsung mengundang tawa warga. Ia kemudian melanjutkan, “TNI datang bangun jembatan, semoga bermanfaat buat rakyat.”
Pantun tersebut disambut balasan dari warga sebagai ungkapan terima kasih atas kehadiran TNI. Sebelum meninggalkan lokasi, Kristomei kembali menutup pertemuan dengan pantun yang disambut tepuk tangan meriah, menciptakan suasana akrab antara aparat dan masyarakat.
Kemampuan berkomunikasi yang luwes itu sejalan dengan rekam jejak kariernya. Pria kelahiran Kotabumi, Lampung Utara, 6 Mei 1976, pernah mengemban sejumlah jabatan strategis di bidang penerangan TNI. Ia dipercaya menjabat Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Kadispenad), kemudian Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, sebelum akhirnya dipercaya memimpin Kodam XXI/Radin Inten.
Selain berpengalaman di bidang komunikasi publik, Kristomei juga memiliki rekam jejak panjang di satuan tempur. Alumni SMA Taruna Nusantara 1994 itu pernah menjabat Komandan Yonif Para Raider 305/Tengkorak, Danmentar Akademi Militer, hingga Wakil Gubernur Akademi Militer.
Pengalaman tersebut dilengkapi berbagai kualifikasi militer, baik di dalam maupun luar negeri. Ia mengantongi sejumlah brevet, termasuk Brevet Para Raider, Free Fall, Para Madya, serta penghargaan internasional seperti Badge for Military Proficiency in Gold dari Jerman, Parachutist Badge dari Spanyol, dan Basic Parachutist Badge dari Malaysia serta Amerika Serikat.
Atas pengabdiannya, Mayjen Kristomei juga menerima berbagai tanda kehormatan, di antaranya Satyalancana Kesetiaan, Satyalancana Dharma Nusa, Satyalancana Wira Dharma, Satyalancana Santi Dharma, UNIFIL Medal, Military Valour Medal dari Lebanon, hingga Medali Veteran Perdamaian.
Dengan perpaduan pengalaman tempur, kemampuan komunikasi publik, serta kepemimpinan yang mengedepankan keteladanan, Mayjen TNI Kristomei Sianturi kini memikul tanggung jawab sebagai Pangdam pertama Kodam XXI/Radin Inten dalam memperkuat profesionalisme prajurit sekaligus menjaga kedekatan TNI dengan masyarakat. (Puji)










