Tangis Histeris Ibu Iringi Pencarian Putrinya di Selat Sunda Lampung

oleh
oleh
Dengan suara bergetar dan mata sembab, Madesta Sijabat tak henti-hentinya memanggil nama putrinya, Zora Panasea Martauli Ompusunggu (19), yang diduga terjatuh dari KMP Batumandi dan hingga kini belum ditemukan.

Lampung Selatan, Kabarlampung.co Tangis seorang ibu pecah di tengah derasnya ombak Selat Sunda. Dengan suara bergetar dan mata sembab, Madesta Sijabat tak henti-hentinya memanggil nama putrinya, Zora Panasea Martauli Ompusunggu (19), yang diduga terjatuh dari KMP Batumandi dan hingga kini belum ditemukan.

Pemandangan pilu itu terjadi saat Madesta ikut menumpangi Rigid Inflatable Boat (RIB) milik Basarnas Lampung yang menyisir perairan sekitar Pulau Panjurit, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, Senin (13/7/2026). Di tengah operasi pencarian, sang ibu beberapa kali menangis histeris, memanggil nama anaknya, hingga terduduk lemas di atas kapal.

Dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar diterpa angin laut, Madesta berulang kali meminta maaf kepada putrinya sambil berharap keajaiban datang dan Zora segera ditemukan dalam keadaan apa pun. Tangisnya membuat suasana di atas kapal pencarian berubah hening dan penuh haru.

Kepala Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara, membenarkan bahwa orang tua korban ikut dalam operasi pencarian di lokasi yang diduga menjadi titik jatuhnya korban.

“Tadi ibu korban ikut bersama kami dalam operasi pencarian sekitar satu jam. Kami berputar di sekitar lokasi yang diduga menjadi tempat korban jatuh. Beberapa kali kami mendengar beliau meminta maaf sambil memanggil nama anaknya. Kondisi itu sangat menyentuh dan menjadi motivasi bagi seluruh tim SAR untuk terus melakukan pencarian. Semoga korban segera ditemukan,” ujar Rezie.

Zora Panasea Martauli Ompusunggu diduga terjatuh ke laut saat KMP Batumandi bersiap sandar di Pelabuhan Bakauheni pada Kamis (9/7/2026) sekitar pukul 01.42 WIB.

Berdasarkan informasi dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Lampung, sebelum kapal sandar, pramugari mengumumkan kepada seluruh penumpang agar kembali ke kendaraan masing-masing. Namun, seorang ibu kemudian melapor ke ruang informasi karena anaknya belum kembali.

Pramugari telah melakukan pemanggilan melalui pengeras suara hingga lima kali, tetapi tidak mendapat jawaban. Petugas kapal kemudian melakukan penyisiran ke seluruh bagian kapal.

Dalam pencarian tersebut, petugas menemukan sepasang sepatu dan sebuah jaket di tangga sebelah kanan menuju dek kendaraan satu. Temuan itu langsung dilaporkan kepada perwira jaga dan menguatkan dugaan bahwa korban terjatuh ke laut.

Setelah menerima laporan, Basarnas Lampung mengerahkan personel SAR gabungan menggunakan kapal RIB, peralatan selam, alat komunikasi, serta perlengkapan pendukung lainnya untuk menyisir perairan sekitar Pulau Panjurit dan jalur pelayaran Selat Sunda.

Memasuki hari kelima pencarian, hingga Senin (13/7/2026), Zora Panasea Martauli Ompusunggu masih belum ditemukan. Tim SAR gabungan terus memperluas area penyisiran dengan harapan dapat segera menemukan korban dan mengakhiri penantian panjang yang menyelimuti keluarga.

Di balik kerasnya ombak Selat Sunda, seorang ibu masih terus berharap. Setiap penyisiran yang dilakukan tim SAR menjadi secercah harapan agar putrinya segera ditemukan dan bisa kembali ke pelukan keluarga, meski harapan itu kini bercampur dengan air mata yang tak kunjung berhenti. (Roy Sandi/Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.