
Lampung Timur, Kabarlampung.co – Pemerintah pusat mempercepat revitalisasi Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, sebagai langkah strategis mengakhiri konflik gajah sumatra dengan manusia sekaligus mengubah wajah kawasan konservasi menjadi destinasi unggulan nasional.
Untuk memastikan program berjalan sesuai target, Deputi Bidang Dukungan Program Strategis Presiden Sekretariat Presiden, Marsekal Muda TNI Dedi Saprudin Samsudin, meninjau langsung TNWK pada Jumat, 24 Juli 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Dedi didampingi Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra Brigjen TNI Sriyanto, Kepala Balai TNWK MHD Zaidi, serta sejumlah pemangku kepentingan. Rombongan memulai agenda dengan rapat di Aula Balai TNWK sebelum meninjau berbagai proyek revitalisasi di lapangan.
Brigjen TNI Sriyanto mengatakan revitalisasi Way Kambas bukan sekadar membangun infrastruktur, melainkan mengubah paradigma hubungan antara masyarakat dan kawasan konservasi.
Menurutnya, konsep “New Look Taman Nasional Way Kambas” menjadi simbol perubahan agar TNWK tidak lagi dipandang terpisah dari kehidupan masyarakat Lampung.
“TNWK Adalah Kita” menjadi semangat baru yang diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki seluruh masyarakat terhadap salah satu kebanggaan Provinsi Lampung tersebut.
Sementara itu, Kepala Balai TNWK MHD Zaidi menjelaskan pengelolaan kawasan kini mengedepankan konsep kebersamaan. Kawasan konservasi diharapkan tidak hanya melindungi satwa liar, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, edukasi, dan pengalaman wisata yang lebih baik bagi masyarakat.
Sebagai bagian dari upaya mengurangi konflik gajah dengan warga, pemerintah membangun sistem mitigasi sepanjang 138 kilometer yang terdiri atas tanggul matras beton sepanjang 57,3 kilometer serta pagar listrik sepanjang 23,3 kilometer di titik-titik rawan lintasan gajah.
Sriyanto menjelaskan, pengamanan tersebut menerapkan sistem multi-layer defense atau pertahanan berlapis. Selain pembatas fisik, pengawasan petugas tetap menjadi faktor utama mengingat gajah sumatra merupakan satwa yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi.
Revitalisasi juga menghadirkan berbagai fasilitas baru untuk mendukung konservasi dan pariwisata. Salah satunya menara pandang setinggi 53 meter yang diproyeksikan menjadi ikon baru Way Kambas dan dapat diakses seluruh pengunjung, termasuk lansia serta penyandang disabilitas.
Selain itu, pemerintah membangun 46 kandang gajah baru, jembatan, embung, hingga jalur skywalk guna meningkatkan kenyamanan wisatawan sekaligus memperkuat pengelolaan kawasan konservasi.
Dalam arahannya, Marsekal Muda TNI Dedi Saprudin Samsudin menegaskan pembangunan Way Kambas merupakan investasi jangka panjang untuk menyelamatkan populasi gajah sumatra.
Ia mengingatkan seluruh pihak agar menjaga satwa endemik tersebut sehingga tetap dapat dinikmati generasi mendatang, bukan hanya dikenal melalui cerita sejarah.
Dedi juga meminta seluruh pekerjaan dilaksanakan dengan kualitas terbaik serta pengelolaan anggaran yang transparan. Sekretariat Presiden, kata dia, akan terus mengawal pelaksanaan proyek hingga tuntas.
Meski begitu, proses revitalisasi masih menghadapi tantangan berupa cuaca ekstrem dan banjir di kawasan utara TNWK yang kerap menghambat pekerjaan.
Di sisi lain, Komite Gabungan juga menyiapkan pengiriman 11 pawang beserta dokter hewan ke Thailand untuk mempelajari metode penanganan gajah tanpa menggunakan rantai.
Program revitalisasi yang merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto itu ditargetkan rampung pada akhir 2026. Pemerintah berharap wajah baru Taman Nasional Way Kambas mampu memperkuat konservasi gajah sumatra, meningkatkan daya tarik wisata, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan. (Sonny/Adi)








