
Lampung Selatan, Kabarlampung.co – Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali bergolak. Aktivitas erupsi berulang terjadi sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari, disertai lontaran material pijar, suara dentuman keras, hingga getaran yang dirasakan warga di kawasan pesisir.
Berdasarkan laporan Magma Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sedikitnya 10 kali erupsi tercatat dalam rentang waktu tersebut.
Aktivitas vulkanik itu juga memuntahkan material erupsi dan menghasilkan kolom abu yang teramati mencapai sekitar 1,5 kilometer dari atas puncak.
Lontaran material pijar bahkan terlihat jelas di tengah gelapnya malam. Fenomena tersebut sempat direkam warga yang melintas di sekitar perairan Selat Sunda pada Sabtu sekitar pukul 00.20 WIB.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang meningkat ini bukan kali pertama terjadi. Gunung api tersebut tercatat mengalami erupsi secara berkala sejak pertengahan Agustus 2026.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Badan Geologi Kementerian ESDM, Suwarno, mengatakan erupsi hingga Sabtu masih berlangsung. Namun, pengamatan visual terkendala kabut dan uap air laut.
“Sejak semalam sampai saat ini erupsi masih berlanjut. Namun, karena tertutup kabut dan uap air laut, erupsinya tidak terlihat jelas dan hanya tampak sedikit kebulan asap ke atas,” ujar Suwarno.
Meski demikian, pada malam hari petugas sempat mengamati sinar api cukup besar dari kawah Gunung Anak Krakatau.
Tak hanya erupsi yang menjadi perhatian. Warga di sekitar pesisir juga merasakan getaran dan mendengar suara gemuruh serta dentuman yang terdengar cukup keras.
Petugas memastikan getaran tersebut bukan gempa tektonik yang berasal dari bawah tanah.
Menurut Suwarno, getaran terjadi akibat gelombang kejut udara atau air shockwave yang ditimbulkan oleh letusan Gunung Anak Krakatau.
“Getaran ini bukan berasal dari bawah tanah atau tektonik, melainkan dari letusan yang terbawa oleh atmosfer,” jelasnya.
Gelombang kejut tersebut bahkan dapat menggetarkan kaca rumah. Sementara suara gemuruh dan dentuman dilaporkan bisa terdengar hingga radius sekitar 40 hingga 50 kilometer dari sumber erupsi.
Sebelumnya, hasil pemantauan kegempaan juga mencatat adanya gempa letusan dengan amplitudo hingga 70 milimeter. Durasi sinyal erupsi tercatat mencapai 21.600 detik.
Kondisi ini membuat aktivitas Gunung Anak Krakatau terus menjadi perhatian, terlebih gunung api tersebut berada di kawasan Selat Sunda yang merupakan jalur pelayaran dan aktivitas masyarakat.
Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga).
PVMBG mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat, nelayan, maupun wisatawan tidak mendekati kawah aktif dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah.
Masyarakat juga diminta tetap tenang dan tidak panik menyikapi getaran maupun dentuman yang terdengar, namun tetap mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan dan mengikuti informasi resmi dari petugas.
Erupsi masih berlangsung. Warga diminta waspada, bukan panik. (Roy)









