
Lampung Selatan, Kabarlampung.co – Erupsi Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian serius, namun aktivitas warga di kawasan pesisir Tanjung Tua, Dusun Sukarame, Desa Bakauheni, Lampung Selatan, Senin (7/9/2026), terpantau tetap berjalan normal.
Tidak terlihat kepanikan di tengah masyarakat. Warga tetap menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan nelayan di kawasan pesisir.
Didi, warga setempat, mengatakan aktivitas masyarakat di pesisir masih berlangsung seperti biasa.
“warga disini sudah terbiasa dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, ” Ujarnya.
Sedangkan soal Isu mengenai air laut yang disebut mengalami penyurutan juga menjadi perhatian warga. Namun, masyarakat setempat menilai fenomena tersebut berkaitan dengan siklus pasang surut air laut yang biasa mereka amati, bukan serta-merta akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Meski demikian, fenomena perubahan muka air laut tetap perlu disikapi berdasarkan pemantauan dan informasi resmi dari otoritas terkait, bukan hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial.
Kondisi serupa disampaikan Hasanudin, nelayan di Pantai Pegantungan, Desa Bakauheni. Ia menyebut aktivitas nelayan masih berjalan dan kondisi kawasan pesisir hingga Senin masih relatif aman dan terkendali.
Sementara itu, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memang sempat terbawa angin dan mencapai sejumlah wilayah permukiman. Warga pun diminta tetap waspada, khususnya terhadap dampak abu vulkanik terhadap kesehatan.
DATA TERBARU: GUNUNG ANAK KRAKATAU MASIH SIAGA
Berdasarkan evaluasi resmi Badan Geologi Kementerian ESDM per Senin, 7 September 2026 pukul 06.00 WIB, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Dalam periode pengamatan 6–7 September, Badan Geologi mencatat 3 kali gempa erupsi, 9 kali gempa hembusan, 93 kali gempa low frequency, 98 kali gempa hybrid/fase banyak, 4 kali tremor menerus, serta 1 kali gempa vulkanik dangkal.
Badan Geologi juga mencatat episode erupsi menerus yang berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, atau sekitar 25 jam, telah berakhir.
Namun, aktivitas Gunung Anak Krakatau belum sepenuhnya berhenti. Setelah episode erupsi menerus berakhir, masih terjadi tiga kali erupsi Strombolian. Badan Geologi menyebut dinamika vulkanisme gunung api tersebut masih terus dipantau dan dievaluasi.
Yang perlu diwaspadai, menurut Badan Geologi, adalah kemungkinan terjadinya erupsi kembali. Probabilitas letusan dalam beberapa periode berikutnya masih tinggi, dengan ancaman berupa lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.
Karena itu, masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Bagi warga yang terdampak abu vulkanik, Badan Geologi merekomendasikan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.
SOAL TSUNAMI, WARGA DIMINTA TAK TERPANCING ISU
Di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, Badan Geologi secara khusus meminta masyarakat pesisir Lampung dan Banten tetap tenang serta tidak mempercayai isu-isu yang menyebut erupsi saat ini akan menyebabkan tsunami.
Masyarakat tetap dapat beraktivitas seperti biasa dengan mengikuti arahan BPBD dan informasi resmi dari pemerintah serta lembaga terkait. (Roy)










