Dari Rumah Gribik, Alfariski Menjemput Senyum

oleh
oleh
Alfariski tinggal bersama ayah, ibu dan dua saudaranya di sebuah rumah sederhana berukuran sekitar 4×4 meter di Dusun Tawangsari, RT 4, RK 4, Desa Semuli Raya.

Lampung Utara, Kabarlampung.coSenyum kecil Muhammad Tri Alfariski mungkin terlihat sederhana. Namun di balik senyum bocah berusia dua tahun itu, tersimpan perjuangan panjang sebuah keluarga yang hidup dalam keterbatasan.

Alfariski tinggal bersama ayah, ibu dan dua saudaranya di sebuah rumah sederhana berukuran sekitar 4×4 meter di Dusun Tawangsari, RT 4, RK 4, Desa Semuli Raya, Kecamatan Abung Semuli, Lampung Utara.

Rumah itu berdinding gribik dan berlantai semen.

Di tempat sederhana itulah, Mujiono, kelahiran 1993, bersama istrinya, Reni Andika, kelahiran 1994, membesarkan tiga anak mereka.

Untuk menghidupi keluarganya, Mujiono bekerja sebagai buruh tani harian.

Penghasilan yang diperoleh tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun keterbatasan ekonomi tidak membuat pasangan ini menyerah ketika harus memperjuangkan pengobatan buah hati mereka.

Alfariski lahir dengan kondisi celah bibir dan langit-langit.

Mujiono masih mengingat jelas saat pertama kali mengetahui kondisi anak ketiganya tersebut.

Ia mengaku sempat terkejut dan tidak menyangka sang buah hati lahir dengan kondisi tersebut.

Tetapi setelah rasa kaget itu berlalu, ia bersama sang istri memilih menerima Alfariski sebagai titipan Tuhan.

Keduanya kemudian mulai mencari jalan agar anak mereka bisa mendapatkan penanganan medis.

Persoalannya, biaya operasi menjadi beban berat bagi keluarga tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan makan dan kehidupan sehari-hari saja harus berhemat, sementara biaya pengobatan terasa jauh di luar kemampuan mereka.

Harapan itu akhirnya datang dari sebuah informasi sederhana.

Seorang bidan tempat Alfariski lahir memberi tahu keluarga tersebut mengenai program operasi celah bibir gratis yang digelar RSU Handayani Kotabumi.

Kesempatan itu langsung dimanfaatkan.

Saat berusia sekitar enam bulan, Alfariski menjalani operasi pertamanya pada 2024.

Dua tahun kemudian, perjuangan tersebut kembali berlanjut.

Pada September 2026, Alfariski kembali dibawa ke RSU Handayani untuk menjalani operasi lanjutan sebagai bagian dari tahapan penanganan celah bibir dan langit-langit.

Perjalanan menuju rumah sakit pun bukan perkara mudah.

Dari rumahnya di Desa Semuli Raya, keluarga Alfariski harus menempuh perjalanan sekitar 26,1 kilometer menuju RSU Handayani Kotabumi.

Dengan sepeda motor, perjalanan memakan waktu sekitar 50 menit.

Kondisi jalan yang rusak membuat perjalanan semakin tidak mudah.

Namun bagi Mujiono dan Reni, jarak dan kondisi jalan bukan alasan untuk mengurungkan niat.

Ada satu tujuan yang ingin mereka capai, melihat anaknya mendapatkan penanganan dan tumbuh seperti anak-anak lainnya.

Menunggu di Balik Pintu Ruang Operasi

Pada hari pertama, Alfariski bersama keluarganya datang untuk menjalani proses pendataan dan pemeriksaan medis.

Dokter kemudian memastikan kondisi pasien sebelum tindakan operasi dilakukan. Hari berikutnya menjadi momen yang paling menegangkan.

Alfariski dibawa masuk ke ruang operasi. Sementara tenaga medis bekerja memberikan tindakan, Mujiono dan Reni hanya bisa menunggu di luar.

Sebagai orang tua, rasa cemas tentu tidak bisa disembunyikan.

Namun mereka mencoba tetap kuat demi anak yang selama ini mereka perjuangkan.

Beberapa waktu kemudian, Alfariski keluar dari ruang operasi dan menjalani perawatan pascatindakan.

Wajah kecilnya mungkin belum memahami apa yang baru saja dilaluinya.

Tetapi bagi kedua orang tuanya, keluarnya Alfariski dari ruang operasi menjadi sebuah kelegaan sekaligus harapan baru.

Kini, setelah menjalani dua kali operasi, Alfariski mulai menunjukkan kehidupan masa kanak-kanaknya.

Ia bermain bersama teman-teman. Bercengkerama dengan ayah dan ibunya. Tertawa dan bergerak bebas seperti anak seusianya.

Momen-momen sederhana itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Mujiono dan Reni.

Sebab perjuangan mereka sejak Alfariski lahir bukan sekadar tentang operasi.

Ada harapan agar anak mereka bisa tumbuh, berkembang, berkomunikasi dan memiliki kepercayaan diri.

Harapan dari Bakti Sosial

Kisah Alfariski menjadi salah satu cerita dalam kegiatan operasi celah bibir dan langit-langit gratis yang digelar RSU Handayani Kotabumi bersama Smile Train Indonesia pada 12–14 September 2026.

Sebanyak 21 peserta menjalani tindakan dalam kegiatan tersebut.

Peserta datang dari berbagai usia, mulai bayi berusia tiga bulan hingga peserta berusia 30 tahun.

Dari 23 orang yang sebelumnya mendaftar, dua peserta belum dapat menjalani operasi karena sedang sakit.

Direktur RSU Handayani Kotabumi, dr. Ratna Sari Ritonga, mengatakan kegiatan tersebut merupakan kali kedua rumah sakit menggelar operasi gratis bagi pasien celah bibir dan langit-langit.

Pada 2024, kegiatan serupa diikuti 17 peserta.

Menurut Ratna, kondisi celah bibir dan langit-langit tidak hanya berkaitan dengan penampilan.

Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat berdampak pada tumbuh kembang, kemampuan berbicara hingga kepercayaan diri.

“Harapan kami, anak-anak ini bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, kemampuan bicaranya baik, dan memiliki kepercayaan diri seperti anak-anak lainnya,” ujar Ratna.

RSU Handayani juga tidak membatasi pelayanan hanya melalui kegiatan bakti sosial.

Rumah sakit membuka layanan operasi celah bibir secara gratis setiap bulan bagi pasien yang memenuhi persyaratan.

Masyarakat yang masih takut atau ragu membawa anak menjalani operasi juga diimbau berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

“Mulai dari pemeriksaan, tindakan operasi, perawatan sampai tindak lanjut, kami berupaya memberikan pelayanan yang aman, nyaman dan penuh empati,” katanya.

Kegiatan operasi gratis tersebut dibuka Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Lampung Utara, Mat Soleh, yang mewakili Bupati Lampung Utara. Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong.

Program tersebut turut mendapat dukungan Dinas Kesehatan Lampung Utara, IDI Lampung Utara, PDGI Lampung Utara, Persatuan Ahli Bedah Mulut dan Maksilofasial Indonesia (PABMI) Lampung, serta sejumlah pihak lainnya.

Smile Train Indonesia menjadi mitra dalam pelaksanaan operasi melalui dukungan tenaga medis profesional dan rumah sakit mitra.

Bagi keluarga Alfariski, program tersebut memberikan arti yang jauh lebih besar dari sekadar sebuah operasi gratis.

Di tengah rumah sederhana berdinding gribik dan penghasilan ayah yang hanya mengandalkan pekerjaan sebagai buruh tani harian, kesempatan mendapatkan pelayanan medis menjadi jalan bagi mereka untuk terus berharap.

Perjuangan Mujiono dan Reni mungkin belum selesai.

Masih ada tahapan perawatan dan pendampingan yang harus dilalui Alfariski.

Namun setiap kali bocah itu tersenyum, ada keyakinan baru bagi kedua orang tuanya bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.

Dari rumah kecil di pelosok Abung Semuli, Alfariski perlahan menjemput harapan.

Bukan hanya untuk memiliki senyum yang lebih sempurna.

Tetapi juga untuk tumbuh, bermain dan menatap masa depan tanpa merasa berbeda.

Dan bagi seorang ayah yang hidup dari pekerjaan harian, senyum anaknya adalah hadiah yang nilainya jauh melampaui apa pun. (Ridho/Adi)

Tas Pancing MUrah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.