
Bandarlampung, Kabarlampung.co – Harapan ribuan calon siswa yang tinggal di sekitar sekolah unggulan kini tak lagi cukup ditentukan oleh kedekatan jarak rumah. Pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026, sejumlah SMA negeri unggulan di Bandarlampung resmi menjadikan nilai Tes Potensi Akademik (TPA) sebagai penentu utama kelulusan jalur domisili.
Kebijakan ini memunculkan beragam respons dari masyarakat. Selama ini, banyak orang tua berharap anaknya memiliki peluang lebih besar diterima karena tinggal di sekitar sekolah. Namun kini, persaingan bergeser ke kemampuan akademik setelah jumlah pendaftar jalur domisili jauh melampaui kuota yang tersedia.
Kepala SMAN 2 Bandarlampung, Seven Sari, menjelaskan bahwa seluruh peserta jalur domisili akan mengikuti TPA berbasis Computer Assisted Test (CAT) yang dijadwalkan berlangsung serentak pada Senin, 8 Juni 2026.
“TPA nanti murni menggunakan sistem CAT. Para peserta akan menggunakan perangkat elektronik masing-masing dan sekolah sudah menyiapkan aplikasinya. Setelah ujian selesai, peserta dapat langsung mengetahui nilai yang diperoleh,” kata Seven Sari, Jumat (5/6/2026).
Perubahan mekanisme seleksi ini membuat banyak siswa yang sebelumnya merasa diuntungkan karena tinggal dekat sekolah kini harus membuktikan kemampuan mereka melalui ujian akademik.
Hal serupa diterapkan di SMAN 10 Bandarlampung. Ketua Panitia SPMB SMAN 10 Bandar Lampung, Lia Kristiani, mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan sekolah-sekolah sekitar agar tidak terjadi kesalahpahaman terkait aturan baru tersebut.
Menurut Lia, jalur domisili tetap diperuntukkan bagi calon siswa yang berada dalam rayon sekolah. Namun ketika jumlah pendaftar melebihi kuota, penentuan kelulusan akan berdasarkan peringkat nilai TPA, bukan lagi jarak rumah terdekat.
“Ada tiga mata pelajaran yang diujikan, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika,” jelas Lia.
Panitia juga memastikan tidak ada batas nilai minimum atau passing grade. Seluruh peserta akan diperingkat berdasarkan hasil TPA, kemudian diterima sesuai urutan nilai tertinggi hingga kuota sekolah terpenuhi.
Perubahan sistem ini membuat banyak keluarga kini menaruh harapan pada hasil ujian akademik anak-anak mereka. Di tengah ketatnya persaingan masuk sekolah unggulan, jarak rumah yang selama ini dianggap menjadi peluang utama tak lagi menjadi jaminan untuk meraih bangku sekolah impian. (Puji)









