
Lampung Utara, Kabarlampung.co – Menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah yang bertepatan pada Selasa, 16 Juni 2026, Peguyuban Kadang Sejati menggelar kegiatan doa bersama sebagai wujud rasa syukur sekaligus refleksi diri memasuki Tahun Baru Islam.
Kegiatan yang dipimpin Radam tersebut berlangsung di kediamannya di Dusun Campursari, Kelurahan Kotabumi Tengah, Kecamatan Kotabumi, Lampung Utara, Senin malam (15/6/2026). Sejumlah jamaah dan masyarakat sekitar hadir mengikuti rangkaian acara yang diisi dengan pembacaan Surah Yasin, zikir, pengajian, dan doa bersama.
Berbagai hidangan seperti makanan tradisional, jajanan pasar, aneka buah-buahan, dan minuman juga disiapkan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT. Setelah doa bersama selesai, makanan tersebut disantap bersama dan dibagikan kepada jamaah serta keluarga yang hadir sebagai simbol berbagi rezeki dan mempererat tali silaturahmi.
Di tengah masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, malam pergantian Tahun Baru Islam kerap dikenal dengan istilah Suroan. Tradisi ini bertepatan dengan datangnya 1 Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah yang menandai dimulainya tahun baru bagi umat Islam.
Istilah Suro berasal dari penyebutan bulan Muharram dalam tradisi masyarakat Jawa. Dalam perjalanan sejarah, terjadi proses akulturasi antara nilai budaya dan ajaran agama sehingga lahirlah berbagai tradisi masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Suroan pada hakikatnya bukan sekadar perayaan pergantian tahun. Di banyak daerah, tradisi ini justru diisi dengan kegiatan yang memiliki nilai edukatif dan religius, seperti doa bersama, pengajian, santunan kepada anak yatim, zikir, serta introspeksi atas perjalanan hidup selama setahun terakhir.
Dalam ajaran Islam, Muharram termasuk salah satu dari empat bulan mulia. Umat Muslim dianjurkan memperbanyak amal ibadah, mempererat silaturahmi, meningkatkan kepedulian sosial, serta melakukan muhasabah agar menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang baru.
Di sisi lain, sejumlah masyarakat Jawa juga masih melestarikan tradisi budaya seperti tirakatan, kenduri, maupun kirab pusaka. Para tokoh agama mengingatkan agar pelaksanaannya tetap berada dalam koridor syariat, tidak disertai keyakinan yang bertentangan dengan ajaran Islam, serta tidak menimbulkan prasangka yang dapat memecah belah umat.
Tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat sejatinya lahir dari niat baik untuk bersyukur, berdoa, menjaga kebersamaan, dan memperkuat hubungan antarsesama. Karena itu, perbedaan cara masyarakat dalam menyambut Tahun Baru Islam hendaknya disikapi dengan saling menghormati, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Momentum 1 Muharram juga menjadi pengingat tentang makna hijrah, yakni berpindah menuju kehidupan yang lebih baik. Semangat perubahan tersebut dapat diwujudkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun sosial melalui peningkatan ibadah, kepedulian, dan persatuan.
Dengan memahami makna Suroan secara utuh, masyarakat diharapkan tidak hanya memandangnya sebagai tradisi turun-temurun, tetapi juga sebagai sarana memperkuat nilai keagamaan, menjaga warisan budaya yang positif, serta merawat kerukunan dalam keberagaman. (Adi)










