
Pesisir Barat, Kabarlampung.co – Di balik teriknya hamparan pasir Krui, lahir sebuah kisah yang menghangatkan hati sekaligus menginspirasi banyak orang. Dua saudari kembar identik asal Kabupaten Pesisir Barat, Shafira dan Shabila, berhasil menembus Universitas Indonesia, kampus terbaik di Tanah Air, pada tahun akademik 2026/2027.
Shafira, lulusan SMAN 1 Pesisir Tengah, diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sementara saudara kembarnya, Shabila, yang merupakan mantan Ketua OSIS SMA Kebangsaan, berhasil lolos di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Keberhasilan dua putri daerah ini bukan sekadar cerita tentang lolos seleksi perguruan tinggi. Di baliknya, tersimpan perjuangan panjang sebuah keluarga sederhana yang tak pernah menyerah pada keadaan.
Sang ayah, Satria, pernah menghabiskan hari-harinya sebagai buruh angkut pasir di Krui. Demi mewujudkan mimpi kedua putrinya, ia rela meninggalkan kampung halaman dan memulai hidup dari awal di Bekasi. Kini, ia berkeliling menjajakan pakaian dari satu tempat ke tempat lain. Profesi boleh berubah, tetapi tekadnya untuk menyekolahkan anak-anaknya tak pernah goyah.
Setiap tetes keringat yang jatuh menjadi saksi bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari kemewahan. Dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, Shafira dan Shabila justru membuktikan bahwa kerja keras, disiplin belajar, doa, dan dukungan orang tua mampu mengantarkan siapa pun meraih cita-cita setinggi langit.
Prestasi mereka mematahkan anggapan bahwa anak dari keluarga sederhana tidak memiliki kesempatan menembus kampus bergengsi. Justru dari perjuangan itulah lahir semangat luar biasa yang mengantarkan keduanya meraih impian.
Keberhasilan ini menjadi kebanggaan masyarakat Pesisir Barat dan Lampung. Dua putri terbaik daerah kini akan mengukir prestasi di Universitas Indonesia, sekaligus membawa harapan baru bagi generasi muda bahwa asal-usul bukanlah penentu masa depan.
Kisa ini bahkan menarik perhatian, Para Dosen Universitas Indonesia , bersama Dekan Fakultas Kedokteran Ui,Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, mendatangi kontrakan kedua mahasiswi itu. Ia menyampakai turun bangga atas prestasi yang didapat dalam kondisi keterbatasan.
Kisah keluarga Satria menjadi pesan kuat bagi para pelajar di seluruh Indonesia: jangan pernah malu dengan pekerjaan orang tua, jangan pernah menyerah karena keterbatasan ekonomi, dan jangan berhenti bermimpi.
Sebab, masa depan tidak ditentukan oleh seberapa besar harta yang dimiliki keluarga, melainkan oleh seberapa besar tekad, usaha, dan doa untuk mengubah kehidupan. Shafira dan Shabila telah membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari keluarga sederhana, bahkan dari kerasnya kehidupan di pesisir Krui. (Rls)









