
Lampung Selatan, Kabarlampung.co – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha mikro di daerah. Kenaikan harga bahan baku yang bergantung pada impor membuat para perajin las di Kabupaten Lampung Selatan harus berjuang lebih keras untuk mempertahankan usahanya di tengah lesunya daya beli masyarakat.
Di bengkel-bengkel las rumahan sepanjang Desa Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, para pelaku usaha mengaku menghadapi tekanan ganda. Selain biaya produksi yang terus membengkak akibat naiknya harga besi, cat, dan tiner, mereka juga dihadapkan pada menurunnya jumlah pesanan dari masyarakat.
Komoditas seperti cat dan tiner menjadi bahan yang mengalami lonjakan harga paling terasa. Kondisi tersebut membuat biaya produksi merangkak naik, sementara para perajin tidak leluasa menaikkan harga jual karena khawatir pelanggan beralih ke tempat lain atau menunda pembuatan pesanan.
“Dolar naik membuat harga bahan baku melonjak tajam. Di sisi lain, imbas lesunya ekonomi ini membuat daya beli masyarakat merosot drastis. Pesanan pembuatan pagar rumah, teralis jendela, pintu, hingga gerobak pedagang kaki lima menurun sangat signifikan,” kata Iwan Irawan, pemilik bengkel las di Desa Karang Anyar, Sabtu (20/6/2026).
Menurut Iwan, kondisi tersebut memaksa pelaku usaha kecil memangkas keuntungan agar tetap bisa bersaing dan mempertahankan pelanggan. Bahkan, saat pesanan sedang sepi, sebagian pemilik bengkel memilih bekerja sebagai tenaga lepasan pada proyek milik rekan sesama perajin untuk menambah pemasukan.
Situasi ini menjadi gambaran nyata bagaimana gejolak nilai tukar rupiah tidak hanya berdampak pada sektor industri besar, tetapi juga langsung menghantam usaha mikro yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat bawah.
Para perajin berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas rupiah dan mendorong pemulihan daya beli masyarakat. Mereka menilai membaiknya kondisi ekonomi nasional menjadi faktor penting agar pesanan kembali bergairah dan usaha bengkel las rumahan terhindar dari ancaman penurunan usaha yang lebih dalam.
“Kalau harga bahan terus naik sementara pesanan turun, yang paling berat tentu usaha kecil seperti kami. Harapannya ekonomi segera membaik supaya masyarakat kembali berani membangun atau memperbaiki rumah,” ujar Iwan. (Gelly)










